Sabtu, 30 Juni 2012

buku materi pelatihan : kader








1 BERSIHKAN DIRIMU
Daftar isi
Pengajian 1.Tugas Manusia
Pengajian 2. Pengelompokan Hati Manusia
Pengajian 3. Racun Hati
Pengajian 4. Renungan Kiat Menjadikan Hati Tetap Hidup
Pengajian 5.Menangis Karena Allah
Pengajian 6 .Apa Aku Sudah Zuhud ?
Pengajian 7.Pengertian Wira’i / Waro
Pengajian Ke 8. Cinta Kepada Allah
Pengajian 9. Takut Kepada Allah Dan Tawakkal Kepada Allah
Pengajian ke 10. Jalan Menuju Qana'ah
Pengajian Ke 11 .Merenungi makna Tasyakur , Tadzakur, Taffakur
12. Membangun kesungguhan dalam hidup


Pengajian 1.TUGAS MANUSIA                                                                                     A. AMANAH ALLAH BAGI MANUSIA
      Manusia dihadirkan di atas bumi ini dengan tujuan yang mulia. Allah swt telah  merancang sedemikian rupa penciptaan manusia untuk dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan kemuliaan pula. Allah juga memberikan bagi manusia amanah yang harus di pertanggung jawabkan. Amanah tersebut pernah ditawarkan kepada gunung, tapi gunung tak sanggup memikulnya. Ditawarkan kepada lautan, lautanpun tak mampu mengembannya. Dan semua makhluk menolak untuk mengemban amanah. Hanya manusialah yang bersedia mengemban amanah tersebut. Amanah yang Allah berikan kepada manusia adalah sebagai Abdullah, sebagai khalifatullah dan bertugas menyebarkan kebenaran, melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Untuk lebih jelasnya  cermati rincian sebagai berikut :
1. Manusia sebagai Abdullah
Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah, menghambakan diri kepada Tuhan semesta alam. Dalam Al-Quran Allah berfirman:

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 

(QS. Adz-Dzariyat, 51:56)
2.Manusia sebagai Khalifatullah.                                                      
       Khalifatullah artinya wakil Allah di bumi ini, yang menjalankan tanggung jawabnya untuk memakmurkan bumi, dan mensejahterakan masyarakat atau umat manusia.  
llah menciptakan manusia di muka bumi untuk menjadi khalifahNya. 
Sebagaimana  firmanNya dalam Al-Quran.
                                        
 30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."      (QS. Al-Baqarah, 2 : 30)
       

Untuk menjalankan amanah ini, ada dua penjelasan yang perlu kita ketahui.                                                                                                    
   Pertama, menjalankan kerja, menjalani profesinya secara professional, mengikuti aturan dan persyaratan yang telah ditetapkan dengan tidak menyimpang dari etika dan norma-norma Islam.                                                                                                  
     Kedua, seorang yang mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin (penguasa),yang menjalankan kepemimpinan secara jujur, adil, arif, bijaksana, disiplin dan penuh  tanggung jawab sesuai dengan aturan dan ketetapan Allah, dia berarti telah menjalankan amanah sebagai seorang khalifah.                                
Dalam suatu komunitas yang dipimpin oleh seorang yang amanah, dengan  menggunakan nilai-nilai Islam dipastikan akan membawa kondisi dalam masyarakatnya dalam kehidupan yang damai, sejahtera dan penuh kemakmuran.
3. Tugas Manusia untuk Menyebarkan Kebenaran              Maka sebagai umat Nabi Muhammad saw   sudah semestinya kita mengambil amanah ini, yaitu  berdakwah, mengajak sesama manusia untuk  taat kepada Allah dan Rasulullah .
   Allah berfirman dalam Al-Quran :
 
110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS. Ali Imran, 3 :110)
        Inilah amanah yang Allah berikan kepada manusia, hidup di dunia ini. Allah menurunkan manusia di bumi ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menjalankan amanah yang telah diberikanNya.                                         Dalam kehidupan manusia senantiasa merasa memikul beban yang berat , sesungguhnya manusia hanyalah menerima beban yang sesuai dengan kemampuan manusia , bila terasa berat maka optimalkan potensi niscaya akan dengan mudah menanggung dan memikul amanah dan perjalanan hidup.

Pengajian 2

 PENGELOMPOKAN HATI MANUSIA

Nabi saw bersabda:
 "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati."                                                          [HR. Bukhari-Muslim].

PENGELOMPOKAN HATI MANUSIA
I..Qalbun Shahih (hati yang suci)                                                                                                                                                                                                                                                         II.Qalbun Mayyit (hati yang mati )                                                                                         III,Qalbun Maridl   (hati yang sakit )

Pertama, Qalbun Shahih
yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya.
Sehingga ia selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari penyelesaian hukum pada selain rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal (berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya.
I. Ciri-ciri Qalbun Shahih
1. Hati a menuju alam akhirat,                                                                                                                               sehingga  berpandangan dunia ini adalahan perjalanan menuju alam akhirat. Sebagaimana telah diwasiatkan Nabi saw kepada Abdullah bin Umar : "Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan." [HR. Bukhari].
Hadits Keempat Puluh dari Hadist Arbain Annawawiyah
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
[رواه البخاري]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “
(Riwayat Bukhori)



Pelajaran :
1.     Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu kapan datang ajalnya.
2.     Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu.                                                                      
      3.     Zuhud di dunia berarti tidak bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan akhirat.    4.     Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.
5.     Waspada dari teman yang buruk hingga tidak terhalang dari tujuannya.
6.     Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.
7.     Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal shaleh.
8.     Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.
2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu bentuk peribatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi ,melebihi sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangannya.                                                                                 
 3. Ia senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah, melebihi keinginan orang yang lapar kepada makanan dan minuman.                                                                                     
        4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.                                                                                               
 5. Bila sedang melakukan sholat,                                                                 
 maka sirnalah semua kegundahannya dan kesusahan karena urusan dunia. Sebab di dalam sholat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.                                                                                  6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya, melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.                                                                                                   
   7. Tidak pernah terputus dan futur (malas) untuk mengingat Allah Idan berdzikir kepada-Nya
8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari suatu amal perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan dalam beramal, mengikuti petunjuk syari'at rasulullah saw di samping ia selalu merenungi segala bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mengakui tentang kelalaian dan  keteledorannya dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.
9 . Introspeksi dan Memperbaiki Diri
             Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba'ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata’ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah).                                   Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata’ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
KEDUA : Qalbun Mayyit (hati yang mati)   

        Qolbun mayyit  adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala marah dan murka akan perbuatannya.
      Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci, memberi.
     Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menutup hati mereka.




Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

25. dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, Padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (kami letakkan) sumbatan di telinganya. dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.".                                   
 "[QS. Al-An'am:25].



KETIGA  : Qalbun Maridl
Qalbun Maridl (hati yang sakit) adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang di cekam sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan maud'izah
Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:


53. agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,                            ( QS. Al-Hajj:53].
                  Namun demikian hati orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya hati orang-orang yang beriman.                                                                                                                    Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit syubhat dan syahwat. Boleh jadi hati manusia sedang sakit , bahkan tanpa disadari. Lebih tragis bahwa hatinya sebenarnya mati, namun si empunya tidak menyadari.

         Untuk memperluas pemahaman kita tentang hati yang sakit berikut ini petikan dari buku : Risalutul-Murid”                                 Petunjuk Jalan Thariqat  Oleh: Imam Habib Abdullah Alwi Haddad edisi bahasa melayu :
Apabila hati sudah rusak akan menjadi susah untuk mengeluarkan penyakit yang sudah  berselaput didalamnya. Sepertinya dari usia muda sudah banyak melalaikan tanggungjawab  sebagai hamba Tuhan dengan tidak menjalankan kewajiban dan menjauhi laranganNya. Pastinya gejala gejala itu sudah melekat seakan-akan sudah dipatri.                                      
        Kerana itulah setiap  murid harus sentiasa membersihkan hatinya yang menjadi tempat mengenali  Tuhan supaya hati tidak  tertarik pada bujukkan hawa nafsu dan syahwat keduniaan. Murid murid harus memelihara hatinya dan harus mengenali musuh-musuhnya supaya tidak ada kesempatan  melangkah masuk dan dinding yang telah dibangunkan, tidak masuk kerumahnya, dimana akan membawanya jauh dari Allah swt. Tanpa mengenali musuh-musuhnya mana  mungkin dapat menghalangi dari serangan mereka?
Keterangan :
1. “Memelihara hati dari sifat sifat dendam khusumat, sifat hasad dengki, sifat suka  menipu dan sifat suka membelit terhadap kaum Muslimin.
2. Jangan sekali-kali suka pada prasangka buruk terhadap siapapun dari kaum  Mu’minin. Sebaiknya ditujukan hatinya untuk menasihati kaum Muslimin, bersifat  pengasih dan sentiasa berprasangka baik kepada semua orang. Sifat begini sangat susah untuk diamalkan kerana sentiasa melihat akan kelemahan orang lain khususnya  seperguruan. Hanya dia ingat dia yang faham dan suka ketawakan rakan  seperguruan dan orang lain.
3. Segala kebaikan yang disukai harus disukai untuk orang lain. Jangan halang orang  lain untuk dapat membuat kebaikan.
4. Setiap murid harus mengetahui bahwa hati mempunyai berbagai penyakit-penyakit  yang lebih berat, lebik buruk dan lebih busuk dari maksiat-maksiat  pancaindera.                                              
   
Oleh  kerana ada penyakit itulah maka murid tidak bisa  menerima makrifatullah (mengenal  Allah) akan kecintaanNya melainkan di hapuskan habis-habisan penyakit tu.                                        Contoh: penyakit yang bahaya ini ialah sifat membesarkan diri atau bongkak, riya’ dan hasad  dengki. Bila ada sifat membesar diri menandakan kurang akal (kefahaman tak ada / tak faham) dan jahil. Siapa yang membesarkan diri, tidak ada rasa kebimbangan sekiranya dia meninggi diri terhadap orang lain dengan apa yang Allah kurniakan kelebihan kelebihanNya  
 kelak Allah akan merampas semula segala kurniaNya disebabkan kelakuan dan perbuatannya yang buruk yang ingin MENCOBA MENANDINGI KUASA TUHAN dalam Sifat KebesaranNya.                    
          Manakala  sifat  riya’ pula suka menunjuk-nunjuk an                                   ( pamer )menandakan hatinya kosong daripada sifat suka membesarkan Allah dan suka  mengagungkan Allah kerana amal yang dibuatnya hanya pura pura saja.    Dia merasa  kurang puas amalnya jika diketahui oleh Tuhan Rabbul Alamin saja. Jadi  dipamerkan   pada orang lain agar  dia di anggap Alim, Wara, ada Ilmu dan tempat orang menanyakan fatwa.                                                                                     
 5. Selain dari itu, harus setiap murid menjaga pancainderanya seperti mata, jangan melihat apa-apa yang haram, yang shubhat, apa yang bisa menaikkan syahwat.                                                    
Mulut, jangan banyak cakap( bicara ) .     


                                   Sebaliknya banyak diamkan diri. perbanyak membaca Quran, Zikir dan berdoa. Jaga mulut daripada terkeluar perkataan-perkataan yang kotor dan boleh menjatuhkan maruah kaum muslim dan bukan muslim. Telinga, jangan mendengar cerita-cerita bohong, cerita kosong, cerita menaruh harapan dan lain-lain.                                                                                                   
 Jadikan telinga suka mendengar bacaan Quran, Zikir, dan Berdoa. Suka mendengar  nasihat-nasihat dan lain-lain. Tangan, jagalah tangan daripada mengambil barang  kepunyaan orang lain tanpa izin.                          

 Jangan jadikan tangan melakukan kekerasan .                      
  Jadikan tangan itu suka kepada kebajikan, mengambil wudhu, mengambil Quran, mengambil Tasbih dan  lain-lain.                   
  Kaki, jadikan kaki suka dan redha ke masjid, ketempat majelis ilmu, menziarah  ulama, menziarah orang sakit, menziarah kubur dan lain-lain. Masyallah. Banyak sekali.
6. Setiap murid hendaklah berzuhud didunia. Sekiranya tidak mampu berzuhud didunia hendaklah menuntut dunia (minta) dari Pemilik dunia itu sendiri; Yaitu Allah swt. Semua hati manusia berada didalam genggaman Tuhan.                                                 
     7. Jauhkan, buang sifat hasad kerana sifat hasad jelas menentang kekuasaan Allah Taala dan membantah akan kudratNya dalam kerajaanNya. Allah swt menganugerahkan nikmatNya kepada setiap hambaNya dan sudah semestinya atas kehendakNya.                                                                                  
 Sekiranya setiap hamba khususnya murid memilih sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dipilihkan oleh Allah swt itu menandakan sihamba sudah melakukan kurang   ajar terhadap Allah swt dan wajib mendapat kemurkaanNya. 
8. Tidak baik memeram dengki terhadap sesiapa yang bersaing dengannya dalam sesuatu tujuan ataupun yang pernah membantunya dalam sesuatu urusan.                                                        9. Harus menanamkan rasa cinta terhadap saudara saudaranya didalam hati serta berusaha dengan zahirnya mengajak dan mengumpul mereka supaya belajar agama untuk menuju ke jalan Allah dan berlumba lumba dalam mentaatiNya.
 10. Jauhkan pada Cintakan  Dunia kerana itu ada Pokok Segala Bencana sebagaimana tersebut didalam sebuah hadis. “Jika hati terselamat dari penyakit cintakan dunia,niscaya ia menjadi putih dan bersih, baik dan bercahaya; dan ketika itu sesuailahuntuk menerima limpahan cahaya dari Allah swt dan mudahlah baginya untuk menyingkap (menangkap) rahasia-rahasia Tuhan”
             Dari keterangan diatas saya ( penyusun ) mengajak sahabat  NU agar berusaha bersama saling membantu untuk menjaga hati .
       Tanda-tanda spesifik hati yang sedang sakit atau mati
adalah jika ia tidak merasa sakit dan pedih oleh goresan-goresan pisau kemaksiatan, Hal itu disebabkan karena hatinya telah rancu dan teracuni, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara nilai kebenaran dan aqidahnya yang batil
Ciri-ciri Qalbun Maridl
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,                                      QS . Al-Baqarah 10
                        Faktor-faktor penyebab sakitnya hati                                          adalah   Fitnah-fitnah  berupa :
v  fitnah syahwat,    dimana reaksinya amat keras sampai dapat merancukan niat dan
v  iradat (kehendak) seseorang.                                                                   
v  fitnah syubhat (keragu-raguan)                                             yang menyebabkan kacaunya    persepsi dan  i’tiqad (keyakinan)




DOA
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
AMIIN








Pengajian 3.   Racun Hati

1.       Berlebihan dalam berbicara
Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda rasulullah saw

:”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”         
   [HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar )


2. Berlebihan dalam memandang sesuatu                                                                              

  Subhanahu wa Ta'ala berfirman



8. dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.                               [QS. Al-Kahfi:28].
3. Berlebihan dalam makan dan minum                                                                                                                     
  Dari Miqdam bin Ma’di Karib dia berkata, bahwa ia mendengar rasulullah saw bersabda:
 Anak adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk, daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.”                                                                           [HR. Ahmad dan Tirmidzi].

4. Berlebihan dalam bergaul
Seyogyanya bagi seorang hamba dapat mengambil hikmah dari setiap pergaulan. usahakanlah untuk bersikap bijak dan dapat menempatkan diri dalam menghadapi berbagai karakter teman sepergaulan. Dimana karakter-karakter tersebut ada empat golongan
              Wong kang sholeh Kumpulono
        Mereka itu adalah Para Ulama yang memiliki cakrawala pengetahuan yang luas tentang ilmu Agama, mengetaui tipu daya setan dan segala macam bentuk penyakit hati
      Hubungan  yang berhubungan dengan kesehatan dan  pekerjaan kegiatan sosial.dan kehadirannya kita nantikan berkaitan dengan masalah kemaslahatan hidup dan kehidupan, seperti untuk saling bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam berniaga, bertani, bermusyawarah dan masalah-masalah lain dalam hal Umum.


Pengajian 4.  Renungan                                                                                                                   
   Kiat Menjadikan Hati Tetap Hidup
    Ketahuilah, bahwa hati yang hidup (hati yang sehat) hanya akan diperoleh dengan ilmu dan ikhtiar (usaha).
 Adapun usaha tersebut yang bisa dilakukan untuk menjadikan hati tetap hidup adalah :
1. Dzikrullah dan Tilawatil Qur'an.
Dengan senantiasa dzikrullah (menyebut dan mengingat Allah) bagi seorang hamba manfaatnya sangatlah besar. Sebagaimana Dia berfirman:
. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
QS. Ar-Ra'du:28]
        Kendatipun dzikrullah adalah salah satu bentuk ibadah yang termudah dan ringan, akan tetapi pahala dan keutamaan yang didapatkan melebihi amalan-amalan lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.   [Qs. Al-Ankabut:45].
      Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur'an, karena Al-Qur'an mengandung berbagai khasiat penyembuh hati dari semua penyakit kegundahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman;
 
57. Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.       [QS. Yunus:57].     
2. Beristighfar                                                                                 
      Hakikat istighfar adalah untuk memohon maghfirah (ampunan), dan batasan maghfirah adalah penjagaan dari keburukan yang diakibatkan dari dosa-dosa.                                                                    
  Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Nya selama memenuhi syaratnya pasti Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan ampunan.
 Firman-Nya:



110. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan Menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An-Nisa’:110].
3. Do'a
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


201. dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka. ( QS. Al baqoroh 201 )


4. Bersholawat Pada Nabi
Sebagaimana sabda beliau saw :  
                                      Barang siapa yang bershalawat untukku satu kali. Maka Allah akan bershalawat sepuluh kali lipat."[HR. Muslim].
 Karena yang demikian itu, setiap satu kebaikan nilainya akan dilipat gandakan sepuluh kalinya, dan bershalawat untuk Nabi saw termasuk kebaikan yang tinggi.
5. Qiyamullail
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَفْضَلُ اَلصَّلَاةِ بَعْدَ اَلْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اَللَّيْلِ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sholat yang paling utama setelah sholat fadlu ialah sholat malam." Dikeluarkan oleh Muslim. (bullughul maram).


Doa:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Amiin

Pengajian 5.

MENANGIS   KARENA  ALLAH

1. Keutamaan Menangis karena Takut kepada Allah Ta'ala.

Ø  Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala , artinya,
وَيَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. (QS ;Al Israa‘109.)
Ø  Firman-Nya
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar."      (QS. Al Mulk 67:12)
Ø  Sabda Rasulullah  , artinya,"Barangsiapa yang mengingat Allah kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak"         ( HR. Al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih)
2.Kiat-kiat   Yang Mengantarkan                                                          kita untuk  Bisa Menangis
1. Dari al-Abbâs Bin Abdul Muthallib Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalambersabda,artinya,
"Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah." (HR.At-Thabrani)
2.   Dari al-Abbâs Bin Abdul Muthallib Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalambersabda,artinya,
"Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah." (HR.At-Thabrani)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Syukhair Radhiallaahu anhu dia berkata,   
Aku mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang sedang shalat, dan (aku mendengar) dari rongga dadanya ada gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang ada di atas tungku berapi, (disebabkan) karena tangisan beliau"  
(HR.Abu Daud dan at-Tirmidzi )
3. Mengenali Asma –Asma  Allah yang Maha Tinggi dan Sifat-Sifat-Nya
4.Menghadiri majlis-majlis ilmu, mendengarkan nasehat-nasehat para ulama yang bisa menyentuh batin kita, sehingga membuat kita menangis Mengingat bahwa kematian adalah pasti   Mengingat dan  membayang kan kedahsyatan hari Kiamat
5.Hendaklah kita selalu bermunajat pada-Nya dan sungguh-sungguh dalam berdo'a agar kita dijauhkan dari hati yang tidak khusyu' dan mata yang tidak bisa menangis


Pengajian 6.
MERENUNGI HIDUP                                                                              apa aku  sudah  zuhud ?
I. Pengertian Zuhud
Di antara ayat-ayat yang mendorong bersikap zuhud di dunia adalah :


20. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
 (Al-Hadid 57 : 20)

1.Berkata Imam Ahmad :
الزهد في الدنيا  قصر الآمل
Zuhud terhadap dunia adalah pendek angan-angan

2Berkata Abdul Wahid bin Zaid :
الزهد في الدني والدرهام
Zuhud adalah terhadap dunia dan dirham”.
3.   Al-Junaid ditanya mengenai zuhud, beliau berkata :
الزهد استسغار الدني, ومحو آثارها من القلب
Zuhud adalah menganggap dunia itu kecil dan menghilangkan bekasnya dari hati

4. Peryataan  Ibrahim Ad- Ham : Zuhud terbagi tiga ,yaitu
1.      Zuhud wajib : artinya menghindari yang Haram
2.      Zuhud sunnah :                                                           
   artinya Zuhud dari yang halal ( mengambil sekedar  untuk bekal sarana Ibadah )
3.      Zuhud keselamatan :                                                            
       artinya :” menghindari yang syubhat , agar tidak terjerumus pada Haram ( agar selamat dirinya )


II. TIPIKAL SEORANG ZAHID
1. Tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih dengan apa yang hilang (QS .al-hadid : 23)
2. Sama saja dihadapannya orang yang mencelanya dan mencacinya
3. Senantiasa bersama Allah dan hatinya didominasi oleh kelezatan ketaatan
III.JENIS-JENIS ZUHUD
1. Meninggalkan yang dilarang (orang awam)                                         
    2. Meninggalkan perkara yang boleh tapi melebihi kebutuhan (orang khusus)                                                                                       
 3. Meninggalkan hal-hal yang memalingkan dari Allah swt (orang yang ‘arif)


IV. TINGKATAN ZUHUD

1. Zuhud terhadap yang syubhah                                                               
    2. Zuhud terhadap kelebihan                                                                           
      3. Zuhud terhadap zuhud
CARANYA :
A.Menganggap biasa apa yang dizuhudi  .                                   
 Menganggap sama semua keadaan yang ada pada dirinya.                                                                         
  B.Berorientasi hakekat                                                                                        


  V. cara menggapai maqom                                                    

 1.Memikirkan kehidupan akherat dan hisab                                        

 2.Dunia akan sirna                                                                

 3.Menumbuhkan perasaan kenikmatan dunia dapat memalingkan hatinya dari dzikir kepada allah

Pengajian 7.

PENGERTIAN WIRA’I / WARO

1.Berwira’i  mengandung makna :

          Menjahui dari hal- hal yang haram dan Syubhat.                       
   Karena wira’i merupakan inti Agama .
                                          
Ø  (Dalam   Buku Tanbighul ghafilin  bab  64 hal 468-472 ) , dijelaskan 
“ Wirai  artinya :Berhati hati  dalam melakukan hukum menghindari yang subhat ,Takut kepada yang haram.
2. Setiap sesuatu punya batas , sedangkan batas batas Islam itu :
1.Wira’i  ,                                                                                                
  2. Tawdlu’  ,                                                                             
   3. Syukur ,                                                                                         
  4.Sabar
 ( Demikian Abu Musa Asy’ari )


  Penjelasan:
1.Wira’i  adalah pokok utama dari segala sesuatu
2Tawadlu ‘ yang berarti bebas dari kesombongan .
3.Syukur  mencapai surga
4.Sabar menyelamatkan diri dari neraka



3.Menrurut Al Faqih Abu laits Samarqandi : bukti adanya  wira’i  yaitu :
1.      Memelihara  lisan dari Ghibah 
2.      Tidak berburuk sangka
3.      Tidak menghina ( merendahkan) orang lain. 
4.      Memelihara  pandangan dari yang haram 
5.      Bicara benar
6.      Mengingat nikmat Allah padanya , agar tidak sombong
7.      Menggunakan hartanya dalam kebenaran bukan pada kebatilan 
8.      Tidak Ambisi kedudukan dan tidak pula berlaku sombong.
9.      Memelihara  (waktu ) Sholat 5 x , dan menyempurnakan ruku’ sujudnya
10.  Istiqomah mengikuti Sunnnah Rosul dan jamaah umat Islam 
4. Peryataan  Ibrahim Ad- Ham : Zuhud terbagi tiga ,yaitu
Zuhud wajib : artinya menghindari yang Haram
Zuhud sunnah : artinya Zuhud dari yang halal                       
        ( mengambil sekedar  untuk bekal sarana Ibadah )
Zuhud keselamatan : artinya :” menghindari yang syubhat , agar tidak terjerumus pada Haram 
( agar selamat dirinya )


Pernyataanya pula “ Bahwa Wira’i  juga ada 2 macam yaitu :
1.Wira’i Wajib / fardu .  yakni menghindari yang haram
2. Wira’i berhati hati   yakni menghindari  yang syubhat


Selanjutnya marilah kita merenungi
Hadist Keempat Puluh  dari Arbain Nawawiyah :                        
      Oleh : Imam An Nawawi
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .
[رواه البخاري]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “
(Riwayat Bukhori)
Pelajaran :
1.     Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu kapan datang ajalnya.
2.     Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu.
3.     Zuhud di dunia berarti tidak bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan akhirat.
4.     Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.
5.     Waspada dari teman yang buruk hingga tidak terhalang dari tujuannya.
6.     Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.
7.     Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal shaleh.
8.     Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.
Setelah kita merenungi Hadist mari kita lanjutkan pembahasan kita  tentang Zuhud dan wara

PERBEDAAN ANTARA  ZUHUD DAN WARA

Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akherat sedangkan waro’ adalah meninggalkan sesuaatu yang ditakuti bahayanya di akherat
2.TINGKATAN WARO'
1. Waro’ al ‘udhul (orang yang adil) pelanggaran terhadap yang haram adalah kefasikan.                                                                     2. Waro’ al-muttaqin, yaitu meninggalkan apa yang tidak berdosa karena takut terhadap apa yang berdosa.                                         3. Waro’ ash-shiddiqin, yaitu halal dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang tidak ada sebab-sebab kemaksiatan
Di antara ayat-ayat yang mendorong bersikap zuhud di dunia. Mari kita renungkan firman Allah :



 
20. barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.(Asy-Syuuraa 42 : 20)



Firman Allah 
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْوَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِعَذَابٌ شَدِيدٌ
20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.        ( QS . AL   HADIT :20)
          Dalam memahami hakikat zuhud : “Tidaklah yang dimaksud dengan zuhud adalah menolak dunia, seperti kekuasaan, adalah Sulaiman dan Dawud ‘alaihima salam adalah termasuk orang terzuhud pada masanya, namun mereka memiliki harta, kerajaan dan para istri. Sesungguhnya zuhud terhadap dunia tidaklah sebatas perkataan-perkataan yang disukai semata, namun zuhud merupakan perkara yang harus bagi setiap orang yang menghendaki Ridha Allah ' beserta ganjaran surganya, mencukupkan diri dengan keutamaannya yang mana zuhud merupakan ikhtiarnya  Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.                                                        Semoga kajian ini bermanfaat bagi kita .

Pengajian 8 :
CINTA KEPADA ALLAH

           Firman Allah Subhanahu wata’ala :


165. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). .” (QS. Al Baqarah, 165).

[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.


Firman Allah :  
24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. ” (QS. At taubah, 24).
 Dalam Hadist  Dijelaskan :
          “  Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين".
          “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya”.
          Juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Anas Radhiallahu’anhu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار". وفي رواية : " لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى ... إلى آخره.
          “Ada tiga perkara, barang siapa terdapat di dalam dirinya ketiga perkara itu, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu : Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah, benci (tidak mau kembali) kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan kedalam api”.
        Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata :
"من أحب في الله، وأبغض في الله، ووالى في الله، وعادى في الله، فإنما تنال ولاية الله بذلك، ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك، وقد صار عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا" رواه ابن جرير.
          “Barangsiapa yang mencintai seseorang karena Allah, membenci karena Allah, membela Karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah itu diperolehnya dengan hal-hal tersebut, dan seorang hamba tidak akan bisa menemukan lezatnya iman, meskipun banyak melakukan sholat dan puasa, sehingga ia bersikap demikian. Pada umumnya persahabatan yang dijalin di antara manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu tidak berguna sedikitpun baginya”.
Pengajian 9. TAKUT KEPADA ALLAH

          Firman Allah Subhanahu wata’ala :

175. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.  (QS. Ali Imran, 175).

  |·  
18. hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat,menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.  (QS. At Taubah, 18).
  
10. dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah[1145]. dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya Kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?                  (QS. Al ankabut, 10).
Keterangan [1145] Maksudnya: orang itu takut kepada penganiayaan-penganiayaan manusia terhadapnya karena imannya, seperti takutnya kepada azab Allah, karena itu ditinggalkannya imannya itu.

          Diriwayatkan dari Aisyah, ra. Bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس " رواه ابن حبان في صحيحه.
          “Barangsiapa yang mencari Ridho Allah sekalipun dengan resiko mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah akan meridhoinya,  dan akan menjadikan manusia ridho kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shohehnya).
TAWAKKAL KEPADA ALLAH
          Firman Allah Subhanahu wata’ala :
  

23. berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".   (QS. Al Maidah, 23).


2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.  ” (QS. Al Anfal, 2)
penjelasan
[594] Maksudnya: orang yang sempurna imannya.
[595] Dimaksud dengan disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.
.

 Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.(QS. Al Anfal, 64).

]ومن يتوكل على الله فهو حسبه[
          “ … dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS. At tholaq, 3).
]حسبنا الله ونعم الوكيل[
          “Cukuplah Allah bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung” (QS. Ali Imran, 173).

          Kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim saat beliau dicampakkan ke dalam kobaran api, dan diucapkan pula oleh Nabi Muhammad disaat ada yang berkata kepada beliau : “Sesungguhnya orang-orang quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, tetapi perkataan itu malah menambah keimanan beliau …” (QS. Ali Imran, 173).





Pengajian ke 10

Jalan Menuju Qana'ah

Qana'ah

 (RELA DAN MENERIMA PEMBERIAN ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA APA ADANYA)
      QONA’AH adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.
Namun meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana'ah
Berikut ini beberapa kiat menuju qana'ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikan nya.
 Di antaranya yaitu:
1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu              wata’ala
Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu

2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.

Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, "Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya." (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur'an yang Agung.
           
         Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). 'Amir bin Abdi Qais pernah berkata, "Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):                Allah subhanahu wata’ala berfirman,
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”             (QS. Fathiir:2)


وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِين
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”                                      (QS. Huud:6)
 


  
7. hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.  (QS. ath-Thalaq:7) .
5                  


Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki

Allah subhanahu wata’ala berfirman
,
32. Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
(QS. az-Zukhruf:32)
6. Banyak Memohon Qana'ah kepada Allah
         Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana'ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberikan qana'ah, beliau bedoa,
"Ya Allah berikan aku sikap qana'ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik."                                                                                               
(HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)   
Pengajian Ke 11                                                                       Merenungi  makna
 Tasyakur  , Tadzakur,   tafffakur
                Kh. Hamim  Jajuli.   ( gus miek ) tokoh sentral  MANTAB dan dzikrul ghofilin  menjelaskan
“:Buah dari dzikrul ghofilin  adalah  tasyakur , tadzakur dan taffakur 
Mengenang nasehat Beliau dalam kesempatan ini saya mencoba menjabarkan tentang  tasyakur , tadzakur dan taffakur 
1. Makna Dan Hakekat Syukur
              Hakekat syukur terhadap nikmat Alloh       adalah menampakkan  pujian dengan lisan, kecintaan di hatinya dan ketaatan pada anggota tubuhnya.
 Syukur dibangun di atas lima landasan utama:
1.Ketundukan  kepada Alloh,                                         
   2.Kecintaan kepada-Nya,                                                  
  3.Pengakuan terhadap nikmat-Nya,                                                     
4.Pujian kepada-Nya                                                                    
5.Tidak menggunakannya dalam kemaksiatan kepada  Alloh.      
           


  Saya menyalin dari buku : La Tahzan, jangan bersedih / 'Aidh al-Qarni; penerjemah, Samson Rahman; penyunting, Syamsuddin TU dan Anis Maftukhin. -Jakarta: Qisthi Press, 2004.

Pikirkan dan Syukurilah!
        Artinya, ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.
Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air,semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, Anda memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya.
{Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.} (QS. Luqman: 20)
Anda memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua kaki.
{Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?}(QS. Ar-Rahman: 13)
Apakah Anda mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acapkali menjadi bengkak bila digunakan jalan terus menerus tiada henti?                                              
 Apakah Anda mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tida kuat dan suatu ketika patah?
Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar Anda masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya?                             
Pernahkah Anda merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar Anda yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?
Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan. Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit?                                                                  Apakah Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda, hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan  untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung?
Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan  kesempumaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa  resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun Anda masih mempunyai nasi  hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk  tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.
Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda  pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya  karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih  memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian,karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan  kemudian syukurilah!
Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah,pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekeliling Anda. Dan janganlah termasuk golongan
{Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.} (QS. An-Nahl: 83)
  
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
  
7. dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".                  (QS. Ibrahim: 7)






2.DZIKIR
Untuk mengawali kajian tentang dzikir marilah kita merenungi Hadits No. 1567 dari Bulughul maram
َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَقُولُ اَللَّهُ -تَعَالَى-: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ )  أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَذَكَرَهُ اَلْبُخَارِيُّ تَ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Allah berfirman: Aku selalu bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku." Riwayat Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan mu'allaq menurut Bukhari.

1.Mengapa berdzikir ?
1.Menghadirkan asma Allah membawa efek yang sangat besar terhadap kedalaman dan kemantapan iman  .                                                         
 2. Mendekatkan diri kepada Allah sehingga mendapatkan nur dari-Nya                                                                                                                
   3. Menyucikan hati, menenangkan jiwa  dan menjernihkan  pikiran                                                                                                                  
  4 Menjadikan seseorang  bener dan pinter                           
 5.Menentramkan hati     


 Allah subhanahu wata’ala berfirman, 
  
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram .                              (Ar-Ra’du; 28)
2.Tingkatan dzikir
Ø  Dzikir dengan ucapan/ dzikir lisan
Ø  Dzikir hati dan lisan seca-ra terpaksa
Ø  Dzikir hati dan lisan tanpa keterpaksaan
Ø  Dzikir dalam segala keadaan
Ø  Dzikir hati dan lisan adalah apa yang diucapkan di lisan sesuai dengan yang terlukis di dalam hati

3.Struktur hati manusia dalam berdzikir :
1. Qalbu                                                                       
  Dzikir lisan                                                                               2.Fuad                                                                                       
 Dzikir hati dan lisan dengan terpaksaan                                                
 3. Dhomir                                                                              
 Dzikir hati dan lisan tanpa keterpaksaan                                                   
4.Sirr                                                                                     
  Dzikir dalam segala keadaan

4.Etika berzikir
1. Yang pertama dan utama adalah hadirnya hati ketika lisannya mengucap dzikir .                                                                                     Kunci tercapainya tu-juan dan maksud yang diinginkan
2.Dalam kesopanan dan perilaku yang sempurna lahir batin.
3.Suci dan bersih dari kotoran hati dan kotoran badan (hadas dan najis)
   4.Tunduk dan tadharru’ berhadapan dengan Allah, penuh         penghormatan atas kebesaran dan keagungan-Nya                                                       
 5.Menghadap kiblat


5. Etika dalam berdoa
1.Pembukaan membaca:                                                        
   Basmalah   , Hamdalah  ,   Solawat pada Nabi SAW                                                                     2.Doa yang diinginkan                                                              
 3.Penutup membaca;                                                                         
 *Solawat pada Nabi Muhammmad SAW                                                        
 * Hamdalah
Nabi Muhammad SAW Bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
 ( يَقُولُ اَللَّهُ -تَعَالَى-: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Allah berfirman: Aku selalu bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku." Riwayat Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan mu'allaq menurut Bukhari
Hadits No. 1567 bullughul marom
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا يَذْكُرُونَ اَللَّهَ إِلَّا حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِم
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Suatu kaum tidak duduk dalam suatu tempat untuk berdzikir kepada Allah kecuali mereka dikelilingi oleh para malaikat dan diliputi rahmat dan Allah menyebut mereka termasuk orang-orang yang ada di dekat-Nya." Riwayat Muslim.  (Hadits No. 1569)
6.Berfikir (tafakkur) tentang apa?
1. Bukti ciptaan Allah dan keindahannya di langit dan bumi   menghasilkan pengenalan (makrifat) kepada Allah
2. BERFIKIR Pemberian dan  karunia Allah berupa kenikmatan ukhrawi dan dunia
        Allah subhanahu wata’ala berfirman,
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)
3.Berfikir Kewajiban terhadap Allah dan kurangnya pengabdian kepada-Nya.Maka akan membuahkan ketekunan ibadat dan bersegera memenuhi hak-hak Allah atas hamba-Nya
4. Berfikir Harta benda dan kemewahan duniawi cepatnya hilang tidak sepadan dengan kesulitan mem perolehnya  dan   membuahkan zuhud dan menjauhinya dari keserakahan memilikinya.
                    Allah subhanahu wata’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.”    (Asy-Syuuraa 42 : 20)
     Untuk melengkapi  kajian tentang taffakur maka saya mengutip dari buku : karangan :                                                    Imam Habib Abdullah Alwi Haddad yang bejudul :                                                                      “Risalutul-Murid” Petunjuk  .Jalan Thariqat  edisi bahasa Melayu
Lazimkan Diri Bertafakkur
Hendaklah kamu memperbanyak bertafakkur yang terbahagi kepada tiga:
1) Tafakkur dalam keajaiban kudrat Tuhan Maha Berkuasa dan keindahan Kerajaan  langit dan bumi.                                                  Buah tafakkur ini ialah untuk mencapai makrifat (pengenalan) kepada Allah swt.
2) Tafakkur dalam anugerah Tuhan dan nikmat-nikmatNya yang begitu banyak diberikan  kepada makhluk-makhlukNya. Buah tafakkur ini ialah untuk mencetuskan perasaan  cinta terhadap Allah swt.
3) Tafakkur dalam urusan dunia dan urusan akhirat dan hal-ehwal semua makhlukmakhlukNya  yang berkecimpung didalam kedua-dua kehidupan tersebut. Buah  tafakkur ini ialah untuk timbul sifat membelakangkan dunia serta cenderung kepada  akhirat.
          Tafakkur sebenarnya ialah pengambilan dari ilmu pengetahuan oleh akal zahir kepada akal  yang bersuluhkan nur (cahaya Allah). Tahap ini terjadi sebagai perbincangan bila bertafakkur  menjalankan tugasnya didalam  merenungi segala ciptaan Allah Taala dengan penangkapan  penglihatan  yang  zahir bersandarkan ilmu pengetahuan  kepada  akal  yang  bercahaya dari  Allah Taala.  .
                         Diri sendiri yang bertanya dan diri yang menjawab.      Dengan bantuan dan  pertolongan cahaya nur dapat membukan kefahaman terha   dap perkara-perkara yang tidak difahami oleh akal zahir sebelumnya. Tugas diri yang bertanya mendapat jawapan yang  memuaskan dari tugasan diri yang menjawab. Perkara tersebut hanya boleh  dilakukan bila  perjalanan sudah teguh bermaksud diri dapat menjalankan perintah suruhan dan menjauhi laranganNya.                                                                                  
             Memperbanyak bertafakkur dalam keajaipan kudrat Tuhan Maha Berkuasa dari ciptaanNya  dan keelokkan (kecantikan) pada segala yang ada dilangit dan bumi.                        Dengan melihat akan  keajaipan ciptaanNya akan membawa kepada kebesaran dan keagunganNya dan membuahkan  keyakinan lebih yakin lagi akan sifat Tuhan Yang Maha Berkuasa. Hasilnya ialah akan  tercapailah makrifat iaitu pengenalan kepada Tuhan.      
                    Memperbanyak bertafakkur dalam pemberian nikmat-nikmatNya yang begitu banyak sekali  pada diri sendiri dan kepada semua makhluk-makhluk ciptaanNya. Pertama sekali duduk  . Sekian cuplikan yang bisa saya sampaikan semoga menambah  pemahaman tentang taffakur.
Sahabatku marilah kita memperbaiki Dzikir, Syukur dan Taffakur kita dan semoga kajian ini membawa manfaat bagi kita .
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
"Wahai Tuhanku, ampunkanlah bagiku dan bagi saudaraku, dan masukkanlah Kami ke Dalam rahmatMu, kerana Engkaulah sahaja Yang Maha Mengasihani dari Segala Yang lain Mengasihani
حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَآَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; kepadanya Aku berserah diri, dan Dia lah Yang mempunyai Arasy Yang besar."         
Amiin
Pengajian ke 12
Membangun Keseriusan  dan Kesungguhan  dalam kehidupan

                        Kesungguhan dan keseriusan seorang muslim merupakan cerminan jiwa yang telah tersiram oleh Kitabullah. Karena al-Qur'an adalah Kitab yang Haq yang tidak ada laghwu (kesia-siaan) dan juga tidak ada senda gurau di dalamnya.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
  
13. Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. 14. dan sekali-kali bukanlah Dia senda gurau.  (QS.Ath  Thaariq 86:13-14)

Maka seorang muslim yang serius dan bersungguh-sunggah berarti dia telah berhias dan berakhlaq dengan akhlaq al-Qur'an.
Seorang muslim yakin bahwa dia diciptakan bukan hanya untuk sebuah senda gurau atau main-main di muka bumi, namun dia sadar bahwa dirinya mengemban amanah yang besar, amanah yang tidak sanggup dipikul oleh langit, bumi dan gunung, sebuah pertanggungjawaban yang agung nanti di hari Kiamat.
Allah subhanahu wata’ala berfirmaN
  
115. Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?(QS. Al Mukminun 23:115)

Keseriusan dan kesungguhan memiliki tanda-tanda dan fenomena yang amat banyak, di antaranya yaitu:

1. Ikhlash

Ikhlas merupakan salah satu pembeda yang pokok antara seorang yang bersungguh-sungguh dengan yang main-main. Orang yang tidak ikhlas, maka bisa jadi seorang munafik dan bisa jadi adalah riya'. Sedangkan orang muslim yang sesungguhnya, tidak berbuat munafik dan tidak riya', sebab tujuannya adalah ridha Allah subhanahu wata’ala dan mengharap pahala-Nya.
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .
Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :
Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.                                                                                           
   Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.                                       Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya. Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.                                                          Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan.
2. Ittiba' (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

         Ini merupakan pembeda ke dua dari keseriusan seorang muslim, karena seorang muslim akan berusaha maksimal agar amal ibadahnya diterima, sedangkan suatu amal akan diterima jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba'ah.
         Maka tidak akan ada gunanya keseriusan orang kafir dalam kekafiran mereka, ahli bid'ah dholalah , Ahli ahli fitnah  dan para pengikut kebatilan dalam kebatilan yang mereka kerjakan. Keseriusan yang mereka lakukan bukan keseriusan yang sesuai syari'at yang dapat mengantarkan kepada keberuntungan dan pada hari Kiamat.
3. Adil dan Pertengahan ( Tawazun)
Serius bukan berarti ekstrim atau berlebihan, namun maknanya adalah adil dan pertengahan. Allah subhanahu wata’ala melarang dari sikap ghuluw (ekstrim), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa ghuluw merupakan sebab kehancuran dan kerusakan. Sikap pertengahan akan dapat memelihara kelangsungan suatu amal, kontinyuitas dalam ketaatan dan menjaganya agar tidak terputus atau mengalami kebosanan.

4. Intensif  / istiqomah  dalam Ketaatan

Intensif dalam melakukan ketaatan dan mengambil setiap kesempatan untuk melaksanakan berbagai bentuk ibadah, bersyukur dan berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala dan terus menambah hal itu bukan termasuk ghuluw selagi dilakukan dalam batas-batas syara'.

            Sebagaimana dimaklumi bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dan mempertahankan ketaatan, membuka pintu-pintuk kebaikan dan ikut andil di dalamnya merupakan penambah keimanan sekaligus merupakan bukti dari kesungguhan seorang muslim dalam beribadah.

5. Jelas Dalam Tujuan
        Seorang muslim meskipun berbeda profesi dan bermacam-macam bidang yang mereka geluti namun mereka memiliki tujuan pokok dan prinsip yang sama yakni mencari keridhaan Allah subhanahu wata’ala dan mengharap pahala di sisi-Nya. Oleh karena itu seorang muslim menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk ibadah, wasilah dan sarana untuk mencapai tujuan pokok tersebut.
       Dengan tujuan yang terpuji ini maka kita dapat menjadikan tidur, makan,minum, kesibukan dan juga waktu luang kita sebagai bagian dari ibadah yang mendapatkan pahala, jika diniatkan dengan benar ketika melakukaknnya.
6. Berkemauan Tinggi

          Berkemauan tinggi merupakan ciri dari orang-orang yang serius, sebab seorang yang berkemauan tinggi tidak rela dengan kemalasan, tidak mudah bosan dan tidak suka berleha-leha. Keinginannya selalu menggiringnya kepada perkara-perkara yang tinggi dan permasalahan yang besar, maka di antara mereka ada yang tekun dalam mendalami ilmu, ada yang serius dalam beribadah, ada yang sungguh-sungguh dalam menerapkan akhlaq dan adab dan lain sebagainya. Meskipun umur mereka pendek, namun dengan keseriusan dan kesungguhan, mereka mampu berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lebih sempurna, dari satu kedudukan ke kedudukan yang lebih tinggi dan seterusnya hingga ajal menjemput.
 
99. dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).                                              (QS. Al Hijr :15:99).

7. Berteman dengan Orang Serius dan sungguh sungguh

Salah satu hal yang dapat menjadi kan seorang muslim tetap dalam keseriusan adalah berteman dengan orang serius, karena manusia akan terpengaruh dengan teman pergaulan nya. Jika seseorang berteman dengan orang yang senang berbuat sia-sia, main-main dalam hidup, senang kepada kebatilan, menyia-nyiakan waktu, maka dia pun akan terpengaruh oleh mereka dan akan menjadi salah satu bagian dari mereka.
8. Tegar Menghadapi Masalah

Orang yang sungguh-sungguh akan tegar dalam menghadapi masalah dan dia tidak lari darinya tanpa berusaha mencari solusinya. Dia hadapi masalah dengan bijak dan tenang, dan ia jadikan itu sebagai tonggak untuk memulai sebuah langkah baru, sehingga dengan kemampuan dan pikiran yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala permasalahan akan terselesaikan dan jalan keluar dari berbagai ujian dan cobaan akan diperoleh.

Di antara yang perlu diperhatikan adalah mencari waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah, yakni waktu-waktu yang lapang dan tenang untuk dapat merenung dan mencurahkan pikiran dengan maksimal. Selain itu juga terkadang perlu untuk meminta pendapat dari pihak lain, terutama teman-teman dan sahabat yang diketahui responsif, mempunyai kemampuan berpikir dengan teliti dalam memandang suatu masalah.
9. Syamil   (Universal)
Seorang muslim yang bersungguh sungguh tidak pilih-pilih dalam melaksanakan agamanya, sebagai mana hal itu diperintahkan Allah subhanahu wata’ala dalam firman  ALLAH
ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arßtã ×ûüÎ7B  
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.             (QS. Al-Baqarah:208)
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, " Makna ayat ini adalah kerjakan seluruh amal perbuatan dan seluruh sisi kebaikan." (Tafsir Ibnu Katsir 1/324)

Seorang muslim tidak boleh membuang bagian dari agama Allah sekehendaknya, mengambil yang ini dan meninggalkan yang itu sesukanya. Juga bukan cermin keseriusan bila hanya mengerjakan perkara-perkara yang mudah dan enak saja lalu enggan dengan berbagai kewajiban lainnya.

10. Pantang Menunda-nunda

Seorang yang berjiwa serius pantang menunda-nunda dan pantang bersandar kepada angan-angan dusta. Tetapi dia bersegera untuk melakukan ketaatan, menyibukkan diri dengan ibadah dan aktivitas yang berguna. Dia bertaubat dan beristighfar setiap saat, sebelum dan sesudah melakukan ibadah, dan dia tidak mengatakan, "Nanti saja aku bertaubat, besok saja aku introspeksi diri dan lain sebagainya.” Dia kerjakan shalat dengan baik dan tepat waktu, membaca al-Qur'an dan merenungkan isinya dan dia tidak mengatakan, "Nanti aku akan shalat dengan baik dan banyak membaca al-Qur'an."

11. Melihat Sirah Nabi dan Shahabat

Termasuk salah satu pendorong kesungguhan adalah dengan melihat perjalanan hidup para nabi dan shahabat sebagai manusia yang penuh dengan kesungguhan dalam hidup mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf:111)

12. Menjauhi Sikap Glamour dan Mewah

Setiap orang yang berakal sepakat bahwa nikmat itu tidak dapat diperoleh dengan leha-leha, dan kemuliaan tidak akan tercapai kecuali dengan susah payah. Maka menghindari gaya mewah dan menjauhi sikap berlebihan merupakan jalan untuk mencapai tingginya himmah (keinginan). Sebagian Ulama  berkata, "Ilmu itu tidak dapat diraih dengan bersantai-santai."


Firman Allah dalam QS. At takasur  1- 8


1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu[1598], 2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.  3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),  4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[1599].
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

[1598] Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan.
[1599] 'ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat.
Sabda Nabi SAW
عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ .
[حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره بأسانيد حسنة]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث
Dari Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata : Seseorang mendatangi Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata : Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.
(Hadits hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:
1.     Menuntut kecukupan terhadap dunia adalah perkara wajib, sedang zuhud adalah tidak adanya ketergantungan dan terpusatnya perhatian terhadapnya.                                                                            2.     Bersikap qanaah terhadap rizki yang halal dan ridho terhadapnya serta bersikap ‘iffah dari perbuatan haram dan hati-hati terhadap syubhat.                                                                           3.     Jiwa yang merasa cukup dan iffah serta berkorban dengan harta
Sumber: Al quran Diqital in word , Hadist arbaain nawawaiyah






BAB 2 Perbaiki Dirimu
DAKWAH DAN MANAGEMANT
DAFTAR ISI
Pengajian ke  1.
PENGELOLAAN DAKWAH                   (MANAGEMENT  DAKWAH)
Pengajian ke 2
Manajemen Dakwah Keluarga
Pengajian ke 3 .
Agar Dakwah  Lebih Berkah
Pengajian ke  4 .                                                                                                              Pentingya Terbentuknya Majelis Taklim Dan Dzikir  Sebagai Sarana Dakwah
Pengajian ke 5  . Retorika dakwah

Pengajian ke  1. 
PENGELOLAAN DAKWAH (MANAGEMENT  DAKWAH )
A.  Pentingnya  Pengelolaan Dakwah :                                               
 1. Perintah Allah untuk berdakwah secara jama'i / kolektif
`

4. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.           (QS Ali Imron 104)
[217] Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
2. Keterbatasan Potensi manusia / da'I ( Kisah Musa & Harun QS Thoha 29-32)                                                                  
   4.Efektifitas dan Efisiensi Dakwah ( Kisah Nabi Nuh )
  B.Tujuan Pengelolaan Dakwah Umum:                            
     1.Bagi Individu    
A.    Pemberantasan Pengangguran dalam Dakwah
B.     Pencegahan dari Aktifitas yang merusak / maksiat
C.     Melatih kepemimpinan di tengah masyarakat
D.    Peningkatan iman dan akhlak
                                   2.Bagi Lembaga Dakwah                                                                          
 A.Penerimaan masyarakat terhadap lembaga ( Dukungan & Pembelaan)                                                                                                  
 B. Terjaganya kelangsungan risalah dakwah
                                   3.Bagi Masyarakat                                                                                                                                                         A. Menumbuhkan kembali nilai-nilai islam yang terlupakan.                                                                                                  
 B. Pencegahan dari tersebarnya kerusakan dan maksiat.                                                                                                     
 C. Meningkatkan kualitas keislaman masyarakat.
C. Tahapan Pengelolaan Dakwah
1. Pemilihan Individu                                                                                                 
 2. Pembentukan Wadah                                                                   
3.Pengelolaan Program                                                                      
  4.Perluasan Jaringan                                                                      
Penjelasan :                                                                                                

1. Pemilihan Individu :
Ø  Penentuan jumlah SDM minimal
Ø  Pemilihan dari sisi loyalitas dan kedekatan
Ø  Pemilihan dari sisi distribusi potensi
Ø  Peningkatan hubungan Intra personal                                             Re-Komitment                                                                                                     
                    2.Pembentukan Wadah :
Ø  Penentuan Wadah / Lembaga ( Berdasar Segmentasi dll)
Ø   Penyamaan Visi Awal
Ø  Penyiapan dan pengumpulan Modal Awal
Ø  Pendirian  Resmi dan Komponen-komponennya.                 
                 3. Pengelolaan Program
Ø  Perencanaan  ( PLANING)
Ø  Pengorganisasian ( ORGANIZING)
Ø  Pelaksanaan (ACTUATING)
Ø  Evaluasi dan Pengawasan (CONTROLLING)
A. PERENCANAAN
Ø  S : Simple and Specific (sedehana  dan khusus )
Ø  M : Measurable  ( terukur )
Ø  A  : Achievable atau Attainable (  mudahditerima )
Ø  R  : Rational atau Reasonable ( masuk akal )
Ø  T   : Time Frame ( rentang waktu )
B. PENGORGANISASIAN
Ø  The Right man on the right place ( memenpatkan orang yang sesuai )
Ø  Job description  ( pembagian kerja yang jelas )
Ø  Time Schedule    ( pembuatan jadwal )
                       C. PELAKSANAAN
Ø  Hindari :One man show
Ø  Hindari : Saling Menggantungkan
Ø  Banyak Hambatan tapi The Show must go on
                                D. PENGAWASAN
n  Forum Evaluasi dan LPJ
n  Mekanisme Reward dan   Punishment
       

 4. PENGEMBANGAN & PERLUASAN JARINGAN
A.    Birokrasi
B.     Pengusaha
C.     Tokoh Masyarakat
D.    LSM , Yayasan lain.
E.     Majlis Taklim, Lembaga Dakwah.
                           5. SOLIDITAS & KADERISASI
  1. Penyiapan Pemimpin Organisasi yang Mumpuni
  2. Peningkatan Kompetensi & Loyalitas Anggota ( Pelatihan, Upgrading dll)
  3. Perekrutan SDM baru
   Capaian Pemimpin Dakwah
n  Konseptor ( sebagai pembuat kosep )
n  Manager    (sebagai pengelola )
n  Motivator  ( sebagai pendorong )
n  Mediator     ( sebagai penenah )
n  Negosiator  ( sebagai penego/ lobi / pendekatan )
PENGELOLAAN DA'I
A.    Pemeliharaan Kompetensi  ( kemampuan )Dasar bagi Da'i
B.     Peningkatan Kompetensi Praktis bagi Da'i
C.     Pengembangan Jaringan dan Media
D.    Penjagaan Standar ESQ ( Akhlak dan Ruhiyah dai )
E.     Keikhlasan dalam Beramal
F.      Peningkatan dai  ( Ilmu Agama dan lainnya)
G.    Peningkatan Kompetensi Praktis bagi Da'I "Kemampuan Publik Speaking ( Pidato , diskusi .dll )
H.    Kemampuan Memperluas Media Pembelajaran.
I.       Kemampuan Memperluas wilayah Pengaruh


Pengajian ke 2
Manajemen   Dakwah Keluarga
         Keluarga adalah kekuatan dan ketenangan kita. Setiap hari kita akan menemukan energi baru saat memahami betapa berharganya keluarga kita. Bayangkan saja apa yang terjadi jika saat Anda membuka mata di pagi hari, tidak ada lagi istri di sisi, dan juga anak-anak di rumah kita ?

       Kehidupan kita pasti akan terguncang luar biasa.  Pekerjaan mudah akan terasa berat kita selesaikan. Kesuksesan demi kesuksesan yang kita tapaki menjadi tidak berarti lagi. Hambar tanpa adanya anak dan istri. Maka mari kita mensyukuri dengan nikmat keluarga kita saat ini, apapun kondisinya.
      
         Rasa syukur ini sebenarnya telah kita pahami sejak awal.
Bahkan dalam keseharian kita sering melantunkan doa tentang harapan dan cita-cita kita terhadap keluarga ini. Salah satu doa yang sering kita lantunkan setiap hari adalah :

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa ( QS Furqon 74)
                     
Visi Pertama :                                                           
   Menjadikan Anak dan Istri  sebagai Penyejuk Hati                                      ( Qurrota A’yun)
            Tidaklah disebut penyejuk hati kecuali mereka menjadi anak dan istri yang sholih dan sholihah.   Menjalani perintah Al-Quran dan as-Sunnah.  Membahagiakan keluarga dengan prestasi-prestasi sederhana yang membanggakan.  Bukan sebaliknya, menjadi fitnah dan ujian bagi keluarga.
Visi ini membutuhkan langkah-langkah yang seharusnya direncanakan sejak awal, sebelum memulai mahligai rumah tangga. Tapi tidak ada kata terlambat untuk kebaikan.
                        Visi Kedua :
               Menjadikan Keluarga kita mempunyai Kontribusi dalam Masyarakat     ( Lil Muttaqiina Imama)
    Ini visi yang besar bagi keluarga kita. Bukan hanya bahagia di dalam rumah, tapi juga mampu menyebarkannya di luar rumah. Langkah riilnya adalah membekali anak, istri dan anggota keluarga dengan ketrampilan, dan mental berbagi dengan masyarakat. Mempunyai sesuatu yang akan dikontribusikan untuk tetangga sekitarnya. Membawa manfaat yang riil meskipun kecil.
      Sungguh anggun ungkapan al-Quran, dimana kita dituntun untuk menjadi pemimpin bagi orang yang bertakwa. Inilah pekerjaan besar bagi saya dan Anda para pemimpin rumah tangga.
Kepada para sahabat yang juga intens memberikan pencerahan kepada masyarakat, saya persembahkan presentasi tentang dakwah keluarga ini.,dan semoga bermanfaat.
Pengajian ke 3 .
Agar Dakwah  Lebih Berkah
MENGAPA DAKWAH HARUS BERKAH ?                                                                                      Pengertian BERKAH                                                                                  adalah  Tambahan Kebaikan di dunia dan di sisi Allah.                                                                                                Berkah  : Kualitas / Efektif Dan Efisien  ,Tepat Guna & Sasaran, Menjaga Orisinalitas & Pahala Dakwah.
1.      Efek Dakwah Kurang Berkah    :                                                             
 Sakit-Sakitan ,                                                                                   
  Prestasi Turun,                                                                                                     
 Mendapat Fitnah,                                                                           
    Dijauhi Teman Dan Keluarga  
2. Sebab-Sebab  Dakwah  Kurang  Berkah
a. Sebab Internal :                                                                                             
 Tidak Ikhlas ,                                                                                                         
   Tidak Tawazun (Tidak Seimbang ),                                            
 Isti’jal / Tergesa-Gesa                                                                                                            
b.Sebab Eksternal :                                                                          
  Harta, Kedudukan,                                                                                    
 Musuh- Dakwah, Cinta


At-Tawazun fi ad-Dakwah

RINCIAN BAHASAN

Tawazun artinya seimbang.
                                                                                                       
  Allah telah mengisyaratkan agar kita hidup seimbang, sebagaimana Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan.
                          1.PENGORGANISASIAN                                                                                                                                             
a.The Right man on the right place                                                                                                                                        
       b.Job description ,                                                                                                                                                        c.Time Schedule .
                          2. PELAKSANAAN
o   Hindari  :One man show
o   Hindari : Saling Menggantungkan
o   Banyak Hambatan
o   tapi The Show must go on

2.Tawazun dalam UKHUWAH                                                                                                                  a.Jebakan-jebakan ukhuwahta’asshob  / fanatik   ,                                                       
      b.Virus cinta  ,                                                                                                            
    c.Toleransi   yg   salah
3.Tawazun antara   Dakwah & Keluarga                                                                                                                                                          4. Tawazun antara Dakwah dan Ibadah

firman  Allah SWT:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS al-Bayyinah : 5)
 5.Tawazun dalam Orisinalitas   dan Pengembangan  dalam Dakwah  Setelah kita memahami tentang dakwah maka marilah kita memasuki pembahasan tentang   starategi dakwah .

DOA :

Saya memohon kepada Alloh untuk mempersatukan hati kita di atas ketaatan kepada-Nya, menjadikan kita orang yang senantiasa berhukum kepada Alloh dan Rasul-Nya dan mengikhlaskan niat kita serta menerangkan kepada kita segala hal yang masih tersamar atas kita dari syariat-Nya, karena sesungguhnya Ia adalah Maha Pemurah lagi Maha Mulia.  AMIIN

Pengajian ke  4 .          

   Pentingya Terbentuknya Majelis Taklim Dan Dzikir  

                                           Sebagai Sarana Dakwah

I. Pendahuluan

Setiap muslim harus berusaha memegang  teguh  komitmen da'wah  Islam. Artinya berusaha untuk menda'wahkan  Islam  kepada umat  manusia  serta  berupaya  untuk  terlibat   dalam aktivitas da'wah islamiah. Keterlibatan dalam da’wah dapat dilakukan dengan pikiran (bilfikr) dengan tindakan langsung (bilhal), dengan ucapan (billisan), dengan harta (bilmal), dengan tulisan (bilqalam) maupun dengan jiwa (binnafs).  Semakin intensif dan beragam jenis keterlibatan dalam aktivitas da’wah semakin lebih baik.     arena pentingnya dakwah di masa sekarang ini maka perlu sekali dibentuk   Majelis Taklim dan dzikir   .Pembentukan ini  memiliki beberapa alasan mendasar :
1. Kebutuhan untuk berda’wah.
                  Dalam kehidupan umat manusia diperlukan adanya segolongan orang yang peduli terhadap ‘amar ma’ruf nahi munkar. Kepedulian tersebut, insya Allah, akan membawa dan menjaga umat manusia selalu berada di jalan Allah. Para mujahid da’wah termasuk orang-orang yang beruntung  karena telah mengikuti perintah dan seruan Rabb-nya.
`    
 dan hendaklah ada antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.                             (QS 3:104, Ali ‘Imran).
2.. Perlunya berda’wah secara kolektif dan profesional.                                                                                                        Misi  da'wah dapat dilaksanakan  secara individual, akan tetapi da’wah secara kolektif dan profesional merupakan kebutuhan di era modern.  Dengan bekerja sama seluruh potensi  , insya  Allah,  akan memberi  hasil yang lebih  efektif,  efisien, dan memuaskan dalam mencapai tujuan da’wah.
3. Merespon  kebutuhan da’wah yang beragam.  

Begitu gencarnya orang orang Yahudi , nasrani , materealis, dan para memuja sahwat  bertindak  merusak , menyerang dan bahkan ingin menghacurkan Islam .   

            Menghadapi ini semua maka perlu lembaga dakwah yang menghimpun seluruh kekuatan dakwah umat  maka perlu dibentuk
Kegiatan/ lembaga / majelis  DAK‘WAH  ISLAM    .
 Ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif merespon  kebutuhan da’wah Islam yang semakin beragam. Keberadaannya  dalam rangka ber-fastabiqul khoirat menegakkan kalimat Allah.  Dengan mengembangkan metode da’wah yang mampu merespon  keinginan dan kebutuhan umat, insya   maka Untuk itu perlu didukung para aktivis da’wah yang  ikhlas dan istiqomah yang mengedepankan sikap mencari ridlo Allah serta diikuti dengan kinerja profesional.
                                 II. TUJUAN,  VISI  DAN  MISI
1.Tujuan jamaah         
Terbinanya umat yang beriman, berilmu dan beramal sholih dalam rangka mengabdi kepada Allah dan mengharap keridloan-Nya“.dan pencapain tujuan Nahdlatul ulama’
2. Visi   :     Insya Allah, menjadi lembaga pelayanan, pelatihan, konsultasi, pusat data dan informasi serta pengembangan Da’wah Islam yang handal, kreatif dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

3.Misi :

 1.Menghimpun dan memaksimalkan potensi kader da’wah .
2.Menyelenggarakan pelayanan, pelatihan dan konsultasi Da’wah Islam yang berkualitas.
3..Melakukan pengkajian, pengembangan dan menghadirkan standard-standard Da’wah Islam.
4..Memasyarakatkan  dan  mendorong  peningkatan  peran Da’wah Islam dalam rangka menuju kebangkitan Islam.

KEGIATAN – KEGIATAN

1.      Pengkajian / pemahan dan tentang islam secara kaafah
2.      Membiasakan menyampiakan pendapat dalam diskusi dan halaqoh .                                                                          
3.   Membahas permasalahan demi kemaslahatan umat Membahas problematika umat                                                                                                  
 4.   Menyelenggarakan pelayanan, pelatihan dan konsultasi Da’wah Islam yang berkualitas.                                                                                           
 5.  Melakukan pengkajian, pengembangan dan menghadirkan standard-standard Da’wah Islam                                                                                                            
   6.  Memasyarakatkan  dan  mendorong  peningkatan   Da’wah Islam dalam rangka menuju kebangkitan Islam



Kesimpulan dan Saran .
        Kehadiran majelis dakwah / taklim, Sangat penting  untuk turut serta dalam mengaktualisasikan dan meningkatkan peran Da’wah Islam .   Keberadaannya memerlukan dukungan segenap pihak, khususnya umat Islam yang memiliki kepedulian terhadap da’wah islamiah.
Dalam kenyataan sekarang ini sangat sulit mendapatkan Relawan dakwah karena sebagian sahabat- sahabat kita begitu bergairah dalam berperan dalam kancah politik , LSM , dan lebih senang menjadi menghabiskan waktunya dalam kesibukan kesibukan untuk  memperolah penghasilan dalam bentuk materi. Maka lewat  ini saya mengetuk hati sahabat sahabat untuk bangkit  memasuki medan dakwah dan jangan takut Allahlah yang menjamin rejeki kita.
Siapa yang akan mempertahankan perjuangan  para ulama jika bukan anda .Mari bergandengan tangan membangun dakwah yang terencana, terorganisir dan professional dan lurus dijalan Allah.     Sahabat sahabatku yakinkan diri anda bahwa menolong Agama Allah kita pasti ditolong oleh Allah. Luruskan , tuluskan , Ihklas karena Allah .Saya berharap  sahabat sahabat bersatu dalam tekad mengembangkan Dakwah .
Jadikan hidup anda dalam keindahan dakwah , berdakwah dengan indah , dan jadikan dakwah menjadi ladang  akherat anda.
   Semoga  Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi pertolongan, rahmat, ridlo dan kesuksesan kepada kita semua. Amin.





Pengajian ke 5
RETORIKA DAKWAH
   PENGERTIAN
           Retorika berasal dari bahasa Ingeris rethoric yang artinya ‘ilmu bicara’. Dalam perkembangannya, retorika disebut sebagai seni berbicara di hadapan umum atau ucapan untuk menciptakan kesan yang diinginkan. Adapun dakwah berasal dari bahasa arab yang artinya’mengajak atau menyeru’.                                                        Banyak sekali pengertian dakwah yang dikemukakan oleh para ahli dakwah, tapi pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah aktivitas mengubah situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan Islam menjadi situasi dan kondisi yang sesuai dengan kehidupan Islam. Dengan demikian yang diinginkan oleh dakwah adalah terjadinya perubahan ke arah kehidupan yang lebih Islami.
          
               Dari definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa retorika dakwah adalah ketrampilan menyampaikan ajaran Islam secara lisan guna memberikan pemahaman yang benar kepada kaum mulimin agar mereka dapat dengan mudah menerima seruan dakwah Islam yang karenanya pemahaman dan prilakunya dapat berubah menjadi lebih Islami.
              RETORIKA DALAM PRAKTEK
         Penyampaian ajaran Islam secara lisan umumnya dilakukan dengan ceramah, pidato, atau khotbah, meskipun ada juga dalam bentuk dialog. Ceramah dan khotbah pada prinsipnya sama saja, hanya saja ceramah dapat dilakukan dalam berbagai modifikasi dan variasi dengan gaya yang lebih bebas sementara khotbah lebih terkesan ritual dengan rukun-rukun yang telah ditentukan, seperti khotbah Jumat, khotbah Iedul Fitri, Khotbah Iedul Adha, dan khotbah nikah.
Untuk bisa ceramah dan khotbah dengan baik, minimal ada tiga bagian yang harus selalu diperhatikan.
                              1. Persiapan
            Apapun kegiatan yang hendak kita lakukan, persiapan merupakan sesuatu yang teramat penting diperhatikan. Dalam berceramah atau berkhotbah, persiapan menjadi lebih penting lagi lebih khusus bagi para pemula yang belum berpengalaman. Karenanya, sulit untuk bisa ceramah dengan baik bila tidak dibekali dengan persiapan yang matang, bahkan bagi orang yang sudah berpengalaman sekalipun.
 Adapun langkah-langkah persiapan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Mental
Persiapan mental meliputi :  
  Pertama, harus disadari bahwa apa yang akan kita sampaikan merupakan tanggung jawab yang mulia, yakni melanjutkan tugas para nabi dalam berdakwah, penting dan memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena masyarakat membutuhkan bimbingan kehidupan yang baik yang didasari pada ajaran Islam.                                                                   Kedua, yakin bahwa apa yang akan disampaikan merupakan sesuatu yang benar.                                                                              Ketiga, yakin bahwa kita adalah orang yang paling pantas untuk menyampaikan masalah yang benar itu.                                                                              Keempat, menyadari bahwa kita memiliki kemampuan untuk melakukan tugas ini dan meyakinkan kepada diri sendiri akan kemampuan itu.                                                                                       Kelima, Tidak peduli kritikan bahkan cemohan orang-orang yang suka mengkritik.

  
39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,
40. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).
41. kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, (an Najm :39-41)
b. Memahami Latar Belakang Jamaah
c. Menentukan Masalah
d. Mengumpulkan Bahan
e. Menyusun Sistimatika
            Bila tema sudah ditentukan dan bahan-bahan sudah dikumpulkan, maka untuk memudahkan pembahasan perlu disusun sistimatika uraian materi pembahasan dengan alur misalnya: 
Pertama, Menjelaskan sebuah masalah yang sedang terjadi di masyarakat,                                                                                                 
 Kedua, Bagaimana hukum masalah itu dalam pandangan Islam.                                                                                           Ketiga, Bagaimana Islam memberikan solusi tentang masalah tersebut.                                                                                                       
  Keempat, Kesimpulan yang berisi apa tindakan riil yang harus kita lakukan berkaitan dengan masalah tersebut.                                                                                    
f. Fisik.                                                                                                 
 g. Analisis Pendengar
                                                                                                                    
2. Pelaksanaan
Setelah semua persiapan dilakukan dengan baik, selanjutnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat ceramah/khotbah sedang berlangsung ;                                                                                         
a.Tampil dengan Penuh Percaya Diri
           Meskipun dalam dakwah kita menuntut jamaah untuk menggunakan prinsip “perhatikan apa yang dibicarakan, jangan perhatikan siapa yang berbicara”, namun penampilan yang mengesankan tetap diperlukan.
Misalnya menggunakan pakaian yang pantas, wajah yang ceria, pandangan mata yang ramah dan tutur kata yang baik.                                                                                  
  Daya tarik dari sisi ini merupakan sesuatu yang sangat penting, sebab bagaimana mungkin ceramah kita akan didengar jamaah bila mereka sudah tidak tertarik dengan penampilankita.

b. Menguasai Forum
Sebelum ceramah dimulai, seorang penceramah terlebih dahulu harus menguasai dirinya sendiri agar tidak gugup atau tidak grogi. Jika ia telah menguasai dirinya sendiri, insya Allah ia akan mudah menguasai forum.
c. Jangan menyimpang
Selama ceramah berlangsung, penceramah harus tetap berpijak pada tema yang sudah disiapkan, jangan sampai melebar terlalu jauh dengan membahas hal-hal yang tidak direncakan untuk dibahas
d. Gaya yang Orisinal
Penceramah sebaiknya menggunakan gayanya sendiri. Jangan meniru gaya orang lain. Hal ini akan mempermudah ceramahnya, sekaligus dapat menjaga wibawanya.
e. Bersikap Sederajat                                                                         Terutama kepada jamaah yang dewasa dan intelektual, sebaiknya bersikap sederajat, jangan terlalu menggurui. Karena itu, dalam menyampaikan pesan, gunakanlah istilah “kita” bukan “Anda”, apalagi “kalian”.
f. Mengatur Intonasi                                                                   
  Ceramah yang menarik adalah ceramah yang nadanya naik turun. Tidak datar terus atau tidak tinggi terus-menerus, apalagi bila dalam ceramah berkisah tentang dua orang yang berdialog, tentu harus dapat dibedakan suara antara tokoh yang satu dengan yang lain.
g. Mengatur Tempo                                                                            
 memberikan ceramah, seorang penceramah hendaknya mengatur tempo pembicaraan sehingga antara kalimat yang satu dan kalimat berkutnya diberikan jarak.
h. Memberi Tekanan                                                                             
  Dalam ceramah seringkali ada kalimat-kalimat yang amat penting untuk dipertegas kepada pendengar. Kalimat itu harus diberi penekanan dengan cara mengulang-ulang, karena dengan begitu jamaah mendapat kejelasan yang memadai 
  i. Memelihara Kontak dengan Jamaah.
Ceramah yang sudah berlangsung lebih dari 30 menit, biasanya melelahkan jamaah. Oleh karena itu, kontak dengan jamaah jangan sampai terputus, misalnya dengan bertanya, memberikan humor yang segar dan relevan (kecuali dalam khutbah jumat tidak ada humor).
j. Pengembangan Bahasan                                                                   
      Untuk menambah daya tarik dalam pembahasan, diperlukan pengembangan pembahasan, antara lain sebagai berikut.                               
 Pertama, penjelasan, yakni keterangan tambahan yang sederhana dan tidak terlalu rinci.                                                                               
Kedua, memberikan contoh yang relevan dengan pembahasan sehingga masalah yang dibahas akan menjadi tambah jelas dan konkret,
Ketiga, memberikan analogi, yakni perbandingan antara dua hal, baik untuk menunjukkan persamaan maupun perbedaan,
k. Memberi Kesimpulan                                                                                
 Bila diperlukan, penceramah dapat memberikan kesimpulan dari uraiannya, lalu lanjutkan dengan kalimat penutup. Kesimpulan bisa dengan mengungkapkan beberapa masalah yang sudah dibahas, bisa juga dengan menyampaikan pesan-pesan inti dari isi ceramah yang kita maksudkan, sesudah itu akhiri ceramah dengan menyampaikan permohonan maaf dan memberi salam. Hal ini berarti jangan sampai ceramah diperpanjang lagi padahal sudah saatnya untuk diakhiri.
3. Langkah-langkah Sesudah Ceramah

Meskipun ceramah sudah berlangsung dengan baik menurut sang penceramah, bukan berarti tugasnya sudah selesai, ada beberapa hal yang harus dilakukan.                                                                                                                                                                                                                                        
 Pertama, turun dari podium/mimbar dan berjalan dengan tenang menuju tempat duduk semula.                                                                                                    
Kedua, kalau perlu cari informasi tentang respons jamaah terhadap kemampuan dan isi ceramah, namun hal ini harus dilakukan Sehati-hati mungkin agar tidak terkesan kita ingin mencari pujian, padahal sebenarnya kita perlu masukan dan evaluasi.                                                                                                    
Ketiga, mengevaluasi sendiri ceramah yang sudah disampaikan, misalnya dengan mendengarkan kembali rekaman ceramahnya.
        Demikianlah secara umum bagaimana berceramah yang baik. Bagi yang ingin pandai berceramah tentu saja harus banyak berlatih, baik sendiri atau bersama-sama.
Renungan
             Sebelum Buku ini saya  ahiri ijinkan saya mengajak pembaca merenungi  nasehat  yang saya ambil dari sebuah buku berbahasa Melayu ( Malaisa ) ,                       Habib Muhammad Bin Abdullah bin Syech Bin Abdullah Bin Syeikh Abdullah Alydrus bib Abu Bakar As-Sakran :    ”Idhahul Asrari Ulumil Murobbin “     Rahasia Ilmu Kaum Moqorobin “   Yang penuh dengan petuah bagi kita Relawan Dakwah NU semoga membawa manfaat :





Khusus Untuk       Para Dai – Untuk Para Dakwah / Murid

         Orang orang yang telah meletakkan kedudukkan dirinya sebagai Dai (pendakwah) dan  Salik/Murid untuk memberikan petunjuk kepada hamba-hamba Allah. Mulailah dari diri kamu  sendiri, benarkan diri kamu.
Hati hati, jangan sampai perbuatan kamu bertentangan dengan ucapan kamu. Ingatlah sikap itu sangat buruk dan tercela. Jika kamu berbuat demikian maka pengikut kamu akan terdiri dari  orang orang bodoh yang tidak tahu pertimbangkan akalnya (tidak tahu mengunakan akal) dan
tak dapat dipercaya.
Perhatikan indahnya syair ini:
“Wahai orang yang mengajar orang lain, mengapa pelajaran itu tidak kau sampaikan kepada diri
sendiri? Mulalah dari diri kamu, halanglah supaya ia tidak menyimpang. Jika berhasil, maka kamu telah bersikap bijaksana. Kamu tuliskan (menasihati) resepi untuk si sakit supaya sembuh, padahal  kamu sendiri yang sakit.                      
  Kami lihat kamu selalu memperbaiki akal kami dengan petunjuk kamu.
Namun kamu sendiri jauh dari petunjuk itu. Jangan kamu larang seseorang untuk berperangai  tertentu, sedangkan kamu sendiri melakukannya. Jika kamu lakukan ini, maka sungguh besar  kesalahan kamu. (Jika kamu ikuti nasihat kami) akan didengar dan diikuti, ucapan kamu. Dan akan bermanfaatlah ajaran kamu”
Jangan sampai semangat kamu mencari ilmu hanya untuk meindahkan gaya bahasa dan  susunan kalimat bukan untuk beramal dan berakhlak.


Sayidina Ali kwh berkata:

Ilmu orang munafik terletak pada lidahnya sedangkan ilmu orang mukmin terletak pada amalnya”
“Betapa banyak Dai (pendakwah) dan Salik/Murid menyeru ke jalan Allah padahal lari  meninggalkanNya. Betapa banyak orang mendekatkan diri kepada Allah Taala dengan sesuatu yang Dia (Allah)benci.                                                  Dan betapa banyak pembaca ayat ayat Allah tapi tidak mau  mengamalkannya” Jangan ada perasaan (maksud tujuan) untuk menjadi Ulama / Wali Allah  mereka disisi Allah lebih berharga daripada darah syuhada, sebelum ilmu kamu merasuk batin kamu,berpeganglah dengan bashirah kamu dan mengikuti dorongan kamu untuk bermohon, merendahkan diri, takut kepada Allah dan berusaha mengikuti akhlak para salaf, radhiyallahuanhum.
       



             Hati hati kerana manusia dewasa ini suka menulis / membaca buku, bermain kata-kata dihadapan kawan-kawannya dan banyak membicarakan dan mengumpul biografi (manaqib) kaum sholihin.                                                  Mereka senang dan bersemangat kerana berbicara itu mudah tapi untuk mengamalkannya sulit.
Jika kamu ingin mendidik / menasihat seseorang, berperangailah dengan lemah lembut, nasihatilah mereka. Jangan Hendak  tunjukan  yang kamu pandai dan mereka bodoh untuk memahami  apa yang kamu nasihatkan. Sesuaikanlah nasihat yang kamu sampaikan dengan tingkatan akal dan pemahaman mereka.
Ikutilah orang yang cerdas akal fikiran yang memperhatikan hikmah Allah swt yang terdapat
pada makhluk-makhlukNya, mengikuti sunnahnya dengan lemah lembut, ramah tamah dan berusaha menutup kesalahan-kesalahan mereka.
       Sampai disini cuplikan ini diharapkan membawa pengaruh yang positif bagi kita amiin
Doa
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami terlupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan  kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup untuk kami  memikulnya. Maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka bantulah kami terhadap kaum yang kafir. (Al-Baqarah 2: 286)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami, dan jika Engkau  tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk dari kalangan orang-orang yang rugi. (Al-A’raf 7: 23)                         amiin

Khatimah / Penutup
           Al hamdulilah  Dengan  terselesainya buku ini                                              Buku  ini disusun sebagai naskah / bahan  ceramah ,diskusi,
dan Halaqoh.   Kebodohan , kelemahan dan kekurangan adalah
milik penyusun / penulis tetapi Allahlah Yang Maha perkasa dan
Maha mengetahui .
       Sangat saya rasakan dan pencarian bahan mengalami kesulitan demikan juga penulisan huruf Arab,  Dengan Harapan semoga  naskah yang sederhana ini berguna sebagi  bahan , ceramah , halaqoh dan diskusi yang hidup dan aktif .
               Saya memohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar memberikan taufiq-Nya kepada kita semua agar berdakwah dengan cara yang baik, dan agar Alloh meluruskan hati dan amal-amal kita serta menganugerahkan kepada kita pemahaman di dalam agama dan komitmen di atasnya. Semoga Alloh menjadikan kita termasuk orang yang mendapatkan petunjuk lagi menunjuki dan orang yang shalih lagi membenahi, sesungguhnya Ia adalah Maha Mulia lagi Maha Tinggi, yang Maha Berkuasa lagi Maha Mulia.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد، وعلى آله وأصحابه، وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين.
Semoga shalawat, salam dan keberkahan senantiasa tercurahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat.
AMIIN

Referensi :
                                                                                                               1.Al-Qur'an dan Hadits Riyadhus Shalihin                                                                         Menggapai Syafaat Rasul saw. tomboati.org Andy Wahyudi                                                                                          2. Ibnu Hajar al 'Asqolani  ;Bullugul Maram: Penerbit : Darul 'Aqidah, Mesir, cet. .1,1 423H /2003 M  Darul Kutub a1-'Ilmilyah, 1417 H   /1997 M  judul Edisi Indonesia: TERJEMAH BULUGHUL MAROM                                                                                                        3.Dhofier. Zamakhsyari. Tradisi Pesantren (Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai). Jakarta : LP3ES, 1982.
4. Penulis:Al-Ustadz Muhammad Nur Ihsan, MA (Mahasiswa S-3 Universitas Islam Madinah)      Bagaimana Cara Ber-Amar Ma’ruf & Nahi Mungkar?  Sumber :http://muslim.or.id                                                                                         5. MUHAMMAD  SUYOKO ,                                                  RETORIKA DAKWAH  handnote                                                          6. Dato’ Hj. Tuan Ibrahim bin Tuan Man Pensyarah Kanan ITM Cawangan Pahang,  KITAB Syarah Al-Hikam I - Imam Athoillah Al-Sakandaria                                                                                                     7. Syech Abu Laits Samarqandi: Tanbighul ghafilin  edisi Bahasa Indonesia penterjemah Imam Taqiyudin                                      8.Imam Habib Abdullah Alwi Haddad yang bejudul :                                                                      “Risalutul-Murid” Petunjuk  .Jalan Thariqat  edisi bahasa Melayu        
9. Habib Muhammad Bin Abdullah bin Syech Bin Abdullah Bin Syeikh Abdullah Alydrus bib Abu Bakar As-Sakran :                        ”Idhahul Asrari Ulumil Murobbin “     Rahasia Ilmu Kaum Moqorobin “                                                                                                               10.Departemen Ilmiah Darul Wathon,                                                                                          Dunia Ladang Bagi Akhirat  الدني مزرعة الآخرة  , Publication : 1428, Sya’ban 24/ 2007, September 7,
11. Al-Qarni, Aidh La Tahzan, jangan bersedih / 'Aidh al-Qarni; penerjemah, Samson Rahman; penyunting, Syamsuddin TU dan Anis Maftukhin. -Jakarta: Qisthi Press, 2004.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar