1 BERSIHKAN DIRIMU
Daftar isi
Pengajian 1.Tugas Manusia
Pengajian 2. Pengelompokan Hati Manusia
Pengajian 3. Racun Hati
Pengajian 4. Renungan Kiat Menjadikan Hati Tetap Hidup
Pengajian 5.Menangis Karena Allah
Pengajian 6 .Apa Aku Sudah Zuhud ?
Pengajian 7.Pengertian Wira’i / Waro
Pengajian Ke 8. Cinta Kepada Allah
Pengajian 9. Takut Kepada Allah Dan Tawakkal Kepada Allah
Pengajian ke 10. Jalan Menuju Qana'ah
Pengajian Ke 11 .Merenungi makna Tasyakur , Tadzakur, Taffakur
12. Membangun kesungguhan dalam hidup
Pengajian
1.TUGAS MANUSIA A.
AMANAH ALLAH BAGI MANUSIA
Manusia dihadirkan di atas bumi ini
dengan tujuan yang mulia. Allah swt telah
merancang sedemikian rupa penciptaan manusia untuk dapat menjalani
kehidupan di dunia ini dengan kemuliaan pula. Allah juga memberikan bagi
manusia amanah yang harus di pertanggung jawabkan. Amanah tersebut pernah
ditawarkan kepada gunung, tapi gunung tak sanggup memikulnya. Ditawarkan kepada
lautan, lautanpun tak mampu mengembannya. Dan semua makhluk menolak untuk
mengemban amanah. Hanya manusialah yang bersedia mengemban amanah tersebut.
Amanah yang Allah berikan kepada manusia adalah sebagai Abdullah, sebagai
khalifatullah dan bertugas menyebarkan kebenaran, melakukan amar ma’ruf nahi
munkar.
Untuk
lebih jelasnya cermati rincian sebagai
berikut :
1.
Manusia sebagai Abdullah
Manusia diciptakan oleh
Allah untuk beribadah, menghambakan diri kepada Tuhan semesta alam. Dalam
Al-Quran Allah berfirman:
56.
dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.
(QS. Adz-Dzariyat, 51:56)
2.Manusia sebagai Khalifatullah.
Khalifatullah artinya
wakil Allah di bumi ini, yang menjalankan tanggung jawabnya untuk memakmurkan
bumi, dan mensejahterakan masyarakat atau umat manusia.
llah
menciptakan manusia di muka bumi untuk menjadi khalifahNya.
Sebagaimana firmanNya dalam Al-Quran.
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada
Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah,
2 : 30)
Untuk
menjalankan amanah ini, ada dua penjelasan yang perlu kita ketahui.
Pertama, menjalankan kerja,
menjalani profesinya secara professional, mengikuti aturan dan persyaratan yang
telah ditetapkan dengan tidak menyimpang dari etika dan norma-norma Islam.
Kedua,
seorang yang mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin (penguasa),yang
menjalankan kepemimpinan secara jujur, adil, arif, bijaksana, disiplin dan
penuh tanggung jawab sesuai dengan
aturan dan ketetapan Allah, dia berarti telah menjalankan amanah sebagai
seorang khalifah.
Dalam
suatu komunitas yang dipimpin oleh seorang yang amanah, dengan menggunakan nilai-nilai Islam dipastikan akan
membawa kondisi
dalam masyarakatnya dalam kehidupan yang damai, sejahtera dan penuh kemakmuran.
3.
Tugas Manusia untuk Menyebarkan Kebenaran Maka sebagai umat Nabi Muhammad saw sudah semestinya kita mengambil amanah ini,
yaitu berdakwah, mengajak sesama manusia
untuk taat kepada Allah dan Rasulullah .
Allah berfirman dalam
Al-Quran :
110.
kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya
ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada
yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran, 3 :110)
Inilah amanah yang
Allah berikan kepada manusia, hidup di dunia ini. Allah menurunkan manusia di
bumi ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menjalankan amanah yang telah
diberikanNya. Dalam kehidupan manusia senantiasa merasa
memikul beban yang berat , sesungguhnya manusia hanyalah menerima beban yang
sesuai dengan kemampuan manusia , bila terasa berat maka optimalkan potensi
niscaya akan dengan mudah menanggung dan memikul amanah dan perjalanan hidup.
Pengajian 2
PENGELOMPOKAN HATI MANUSIA
Nabi saw bersabda:
"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam
tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh
manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati." [HR. Bukhari-Muslim].
PENGELOMPOKAN
HATI MANUSIA
I..Qalbun Shahih
(hati yang suci)
II.Qalbun
Mayyit (hati yang mati ) III,Qalbun Maridl
(hati yang sakit )
Pertama, Qalbun
Shahih
yaitu hati yang sehat
dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah
Subhanahu wa Ta'ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya.
Sehingga ia selamat
dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari penyelesaian hukum pada selain
rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah
(cinta), tawakkal (berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan
karunia-Nya.
I. Ciri-ciri Qalbun Shahih
1. Hati a menuju
alam akhirat,
sehingga berpandangan dunia ini adalahan perjalanan
menuju alam akhirat. Sebagaimana telah diwasiatkan Nabi saw kepada Abdullah bin
Umar : "Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing
atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan." [HR. Bukhari].
Hadits Keempat Puluh dari Hadist Arbain
Annawawiyah
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ
صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ
غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ
فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ
لِمَوْتِكَ .
[رواه البخاري]
Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma
berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak
saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau
pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu
pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari,
gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk
kematianmu “
(Riwayat Bukhori)
Pelajaran :
1. Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan
memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu
kapan datang ajalnya.
2.
Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu.
3. Zuhud di dunia berarti tidak bergantung
kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan
akhirat. 4.
Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang
bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.
5. Waspada dari teman yang buruk hingga tidak
terhalang dari tujuannya.
6. Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa
dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk
tujuan akhirat.
7. Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan
mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal shaleh.
8. Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin
Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan.
Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya
kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini
dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan
Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan
oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.
2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu
bentuk peribatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi ,melebihi
sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangannya.
3. Ia senantiasa rindu untuk
dapat mengabdikan diri di jalan Allah, melebihi keinginan orang yang lapar
kepada makanan dan minuman.
4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
5. Bila sedang melakukan sholat,
maka sirnalah semua kegundahannya dan kesusahan karena urusan dunia.
Sebab di dalam sholat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang
suci.
6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya, melebihi
rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.
7. Tidak pernah terputus dan futur (malas) untuk mengingat
Allah Idan berdzikir kepada-Nya
8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari suatu amal
perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan dalam beramal,
mengikuti petunjuk syari'at rasulullah saw di samping ia selalu merenungi
segala bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mengakui tentang
kelalaian dan keteledorannya dalam
memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.
9 . Introspeksi
dan Memperbaiki Diri
Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba'ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata’ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata’ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba'ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata’ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata’ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.
Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.
KEDUA
: Qalbun Mayyit (hati yang mati)
Qolbun mayyit adalah kebalikan dari
hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai
atau ridha kepada-Nya dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan
memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah
Subhanahu wa Ta'ala marah dan murka akan perbuatannya.
Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha
atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi
kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula
dengan membenci, memberi.
Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada
rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
Hati
jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu
tidaklah berfaedah sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menutup
hati mereka.
Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
25.
dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, Padahal Kami
telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak)
memahaminya dan (kami letakkan) sumbatan di telinganya. dan jikapun mereka
melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya.
sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir
itu berkata: "Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang
dahulu.".
"[QS. Al-An'am:25].
KETIGA : Qalbun Maridl
Qalbun Maridl (hati
yang sakit) adalah
hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan
benih-benih penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang di cekam sakit akan
mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan maud'izah
Seperti
difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:
53. agar Dia menjadikan apa yang
dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam
hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. dan Sesungguhnya orang-orang yang
zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, ( QS.
Al-Hajj:53].
Namun demikian hati
orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir
dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya
hati orang-orang yang beriman.
Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit syubhat dan syahwat. Boleh
jadi hati manusia sedang sakit , bahkan tanpa disadari. Lebih tragis bahwa
hatinya sebenarnya mati, namun si empunya tidak menyadari.
Untuk memperluas
pemahaman kita tentang hati yang sakit berikut ini petikan dari buku : Risalutul-Murid” Petunjuk Jalan
Thariqat Oleh: Imam Habib Abdullah Alwi
Haddad edisi bahasa melayu :
Apabila hati sudah rusak akan menjadi
susah untuk mengeluarkan penyakit yang sudah
berselaput didalamnya. Sepertinya dari usia muda sudah banyak melalaikan
tanggungjawab sebagai hamba Tuhan dengan
tidak menjalankan kewajiban dan menjauhi laranganNya. Pastinya gejala gejala
itu sudah melekat seakan-akan sudah dipatri.
Kerana itulah setiap murid harus
sentiasa membersihkan hatinya yang menjadi tempat mengenali Tuhan supaya hati tidak tertarik pada bujukkan hawa nafsu dan syahwat
keduniaan. Murid murid harus memelihara hatinya dan
harus mengenali musuh-musuhnya supaya tidak ada kesempatan melangkah masuk dan dinding yang telah
dibangunkan, tidak masuk kerumahnya, dimana akan membawanya jauh dari Allah
swt. Tanpa mengenali musuh-musuhnya mana
mungkin dapat menghalangi dari serangan mereka?
Keterangan :
1. “Memelihara hati
dari sifat sifat dendam khusumat, sifat hasad dengki, sifat suka menipu dan sifat suka membelit terhadap kaum
Muslimin.
2. Jangan sekali-kali
suka pada prasangka buruk terhadap siapapun dari kaum Mu’minin. Sebaiknya ditujukan hatinya untuk
menasihati kaum Muslimin, bersifat pengasih
dan sentiasa berprasangka baik kepada semua orang. Sifat begini sangat susah untuk
diamalkan kerana sentiasa melihat akan kelemahan orang lain khususnya seperguruan. Hanya dia ingat dia yang faham
dan suka ketawakan rakan seperguruan dan
orang lain.
3. Segala kebaikan yang
disukai harus disukai untuk orang lain. Jangan halang orang lain untuk dapat membuat kebaikan.
4. Setiap murid harus
mengetahui bahwa hati mempunyai berbagai penyakit-penyakit yang lebih berat, lebik buruk dan lebih busuk
dari maksiat-maksiat pancaindera.
Oleh kerana ada penyakit itulah maka murid tidak bisa
menerima makrifatullah (mengenal Allah) akan kecintaanNya melainkan di
hapuskan habis-habisan penyakit tu. Contoh: penyakit yang bahaya ini ialah sifat
membesarkan diri atau bongkak, riya’ dan hasad
dengki. Bila ada sifat membesar diri menandakan kurang akal (kefahaman
tak ada / tak faham) dan jahil. Siapa yang membesarkan diri, tidak ada rasa
kebimbangan sekiranya dia meninggi diri terhadap orang lain dengan apa yang
Allah kurniakan kelebihan kelebihanNya
kelak Allah akan merampas semula
segala kurniaNya disebabkan kelakuan dan perbuatannya yang buruk yang ingin
MENCOBA MENANDINGI KUASA TUHAN dalam Sifat KebesaranNya.
Manakala sifat riya’
pula suka menunjuk-nunjuk an ( pamer )menandakan hatinya kosong daripada
sifat suka membesarkan Allah dan suka mengagungkan
Allah kerana amal yang dibuatnya hanya pura pura saja. Dia
merasa kurang puas amalnya jika
diketahui oleh Tuhan Rabbul Alamin saja. Jadi dipamerkan
pada orang lain agar dia di
anggap Alim, Wara, ada Ilmu dan tempat orang menanyakan fatwa.
5. Selain dari
itu, harus setiap murid menjaga pancainderanya seperti mata, jangan melihat
apa-apa yang haram, yang shubhat, apa yang bisa menaikkan syahwat.
Mulut, jangan banyak cakap( bicara ) .
Sebaliknya
banyak diamkan diri. perbanyak membaca Quran, Zikir dan berdoa. Jaga mulut
daripada terkeluar perkataan-perkataan yang kotor dan boleh menjatuhkan maruah
kaum muslim dan bukan muslim. Telinga, jangan mendengar cerita-cerita bohong,
cerita kosong, cerita menaruh harapan dan lain-lain.
Jadikan telinga suka mendengar bacaan
Quran, Zikir, dan Berdoa. Suka mendengar
nasihat-nasihat dan lain-lain. Tangan, jagalah tangan daripada mengambil
barang kepunyaan orang lain tanpa izin.
Jangan jadikan tangan melakukan kekerasan
.
Jadikan tangan itu suka kepada kebajikan,
mengambil wudhu, mengambil Quran, mengambil Tasbih dan lain-lain.
Kaki, jadikan kaki suka dan redha ke masjid,
ketempat majelis ilmu, menziarah ulama,
menziarah orang sakit, menziarah kubur dan lain-lain. Masyallah. Banyak sekali.
6. Setiap murid
hendaklah berzuhud didunia. Sekiranya tidak mampu berzuhud didunia hendaklah
menuntut dunia (minta) dari Pemilik dunia itu sendiri; Yaitu Allah swt. Semua
hati manusia berada didalam genggaman Tuhan.
7. Jauhkan, buang sifat
hasad kerana sifat hasad jelas menentang kekuasaan Allah Taala dan membantah
akan kudratNya dalam kerajaanNya. Allah swt menganugerahkan nikmatNya kepada
setiap hambaNya dan sudah semestinya atas kehendakNya.
Sekiranya
setiap hamba khususnya murid memilih sesuatu yang bertentangan dengan apa yang
dipilihkan oleh Allah swt itu menandakan sihamba sudah melakukan kurang ajar terhadap Allah swt dan wajib mendapat
kemurkaanNya.
8. Tidak baik memeram dengki terhadap
sesiapa yang bersaing dengannya dalam sesuatu tujuan ataupun yang pernah
membantunya dalam sesuatu urusan.
9. Harus menanamkan rasa cinta terhadap saudara saudaranya didalam hati
serta berusaha dengan zahirnya mengajak dan mengumpul mereka supaya belajar
agama untuk menuju ke jalan Allah dan berlumba lumba dalam mentaatiNya.
10.
Jauhkan pada Cintakan Dunia kerana itu
ada Pokok Segala Bencana sebagaimana tersebut didalam sebuah hadis. “Jika hati
terselamat dari penyakit cintakan dunia,niscaya ia menjadi putih dan bersih,
baik dan bercahaya; dan ketika itu sesuailahuntuk menerima limpahan cahaya dari
Allah swt dan mudahlah baginya untuk menyingkap (menangkap) rahasia-rahasia
Tuhan”
Dari keterangan
diatas saya ( penyusun ) mengajak sahabat
NU agar berusaha bersama saling membantu untuk menjaga hati .
Tanda-tanda spesifik hati yang sedang
sakit atau mati
adalah
jika ia tidak merasa sakit dan pedih oleh goresan-goresan pisau kemaksiatan,
Hal itu disebabkan karena hatinya telah rancu dan teracuni, sehingga tidak
dapat lagi membedakan antara nilai kebenaran dan aqidahnya yang batil
Ciri-ciri
Qalbun Maridl
فِي
قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا
كَانُوا يَكْذِبُونَ
. Dalam hati mereka ada
penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, QS .
Al-Baqarah 10
Faktor-faktor penyebab
sakitnya hati
adalah Fitnah-fitnah berupa :
v fitnah syahwat, dimana reaksinya amat keras sampai dapat
merancukan niat dan
v iradat (kehendak)
seseorang.
v
fitnah syubhat (keragu-raguan) yang menyebabkan kacaunya persepsi dan i’tiqad (keyakinan)
DOA
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
AMIIN
Pengajian 3. Racun Hati
1. Berlebihan dalam berbicara
Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan
hati menjadi keras, sebagaimana sabda rasulullah saw
:”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah,
karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang
terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”
[HR. Tirmidzi
dari Ibnu Umar )
2. Berlebihan dalam
memandang sesuatu
Subhanahu wa Ta'ala berfirman
8. dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan
orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena)
mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang
hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya
dan adalah keadaannya itu melewati batas.
[QS. Al-Kahfi:28].
3. Berlebihan dalam makan dan minum
Dari
Miqdam bin Ma’di Karib dia berkata, bahwa ia mendengar rasulullah saw bersabda:
“Anak adam tidak memenuhi wadah yang lebih
buruk, daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk
menguatkan tulang rusuknya. Jika memang tidak memungkinkan, maka sepertiga
untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.”
[HR. Ahmad dan Tirmidzi].
4. Berlebihan dalam
bergaul
Seyogyanya bagi seorang
hamba dapat mengambil hikmah dari setiap pergaulan. usahakanlah untuk bersikap
bijak dan dapat menempatkan diri dalam menghadapi berbagai karakter teman
sepergaulan. Dimana karakter-karakter tersebut ada empat golongan
Wong kang sholeh Kumpulono
Mereka itu adalah Para Ulama yang memiliki
cakrawala pengetahuan yang luas tentang ilmu Agama, mengetaui tipu daya setan
dan segala macam bentuk penyakit hati
Hubungan
yang berhubungan dengan kesehatan dan
pekerjaan kegiatan sosial.dan kehadirannya kita nantikan berkaitan
dengan masalah kemaslahatan hidup dan kehidupan, seperti untuk saling
bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam berniaga, bertani, bermusyawarah dan
masalah-masalah lain dalam hal Umum.
Pengajian 4. Renungan
Kiat
Menjadikan Hati Tetap Hidup
Ketahuilah, bahwa hati yang hidup (hati
yang sehat) hanya akan diperoleh dengan ilmu dan ikhtiar
(usaha).
Adapun usaha tersebut yang bisa dilakukan
untuk menjadikan hati tetap hidup adalah :
1. Dzikrullah dan
Tilawatil Qur'an.
Dengan senantiasa dzikrullah
(menyebut dan mengingat Allah) bagi seorang hamba manfaatnya sangatlah besar.
Sebagaimana Dia berfirman:
. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah
hati menjadi tenteram.
QS. Ar-Ra'du:28]
Kendatipun dzikrullah adalah
salah satu bentuk ibadah yang termudah dan ringan, akan tetapi pahala dan
keutamaan yang didapatkan melebihi amalan-amalan lainnya.
Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
. Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat
yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[Qs. Al-Ankabut:45].
Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur'an, karena Al-Qur'an mengandung
berbagai khasiat penyembuh hati dari semua penyakit kegundahan. Allah Subhanahu
wa Ta'ala berfirman;
57. Hai manusia,
Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi
penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman. [QS. Yunus:57].
2. Beristighfar
Hakikat istighfar adalah untuk memohon maghfirah (ampunan), dan
batasan maghfirah adalah penjagaan dari keburukan yang diakibatkan dari
dosa-dosa.
Dan
barangsiapa yang meminta ampun kepada-Nya selama memenuhi syaratnya pasti Allah
Subhanahu wa Ta'ala memberikan ampunan.
Firman-Nya:
110. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan
Menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An-Nisa’:110].
3. Do'a
Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
201. dan di antara mereka ada orang yang bendoa:
"Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
peliharalah Kami dari siksa neraka. ( QS. Al baqoroh 201 )
4. Bersholawat Pada
Nabi
Sebagaimana sabda
beliau saw :
”Barang
siapa yang bershalawat untukku satu kali. Maka Allah akan bershalawat sepuluh
kali lipat."[HR. Muslim].
Karena yang demikian itu, setiap satu kebaikan
nilainya akan dilipat gandakan sepuluh kalinya, dan bershalawat untuk Nabi saw
termasuk kebaikan yang tinggi.
5. Qiyamullail
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ
اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَفْضَلُ اَلصَّلَاةِ بَعْدَ اَلْفَرِيضَةِ صَلَاةُ
اَللَّيْلِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sholat yang
paling utama setelah sholat fadlu ialah sholat malam." Dikeluarkan oleh
Muslim. (bullughul maram).
Doa:
رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Amiin
Pengajian 5.
MENANGIS KARENA ALLAH
1. Keutamaan Menangis karena Takut kepada Allah Ta'ala.
Ø
Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala , artinya,
وَيَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ
خُشُوعًا
Dan mereka menyungkur
atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'. (QS ;Al
Israa‘109.)
Ø
Firman-Nya
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ
لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
Sesungguhnya
orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka
akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al Mulk 67:12)
Ø Sabda
Rasulullah , artinya,"Barangsiapa yang mengingat Allah kemudian dia
menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan
diazab pada hari kiamat kelak"
( HR. Al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih)
2.Kiat-kiat Yang Mengantarkan
kita untuk Bisa Menangis
1. Dari al-Abbâs Bin
Abdul Muthallib Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi
wasalambersabda,artinya,
"Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah." (HR.At-Thabrani)
"Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah." (HR.At-Thabrani)
2. Dari al-Abbâs Bin Abdul Muthallib
Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalambersabda,artinya,
"Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah." (HR.At-Thabrani)
"Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah Subhannahu wa Ta'ala , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah." (HR.At-Thabrani)
Diriwayatkan dari
Abdullah bin Syukhair Radhiallaahu anhu dia berkata, “
Aku mendatangi
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang sedang shalat, dan (aku mendengar)
dari rongga dadanya ada gemuruh seperti gemuruh air mendidih dari periuk yang
ada di atas tungku berapi, (disebabkan) karena tangisan beliau"
(HR.Abu Daud dan
at-Tirmidzi )
3. Mengenali Asma
–Asma Allah yang Maha Tinggi dan
Sifat-Sifat-Nya
4.Menghadiri
majlis-majlis ilmu, mendengarkan nasehat-nasehat para ulama yang bisa menyentuh
batin kita, sehingga membuat kita menangis Mengingat bahwa kematian adalah
pasti Mengingat dan membayang kan kedahsyatan hari Kiamat
5.Hendaklah kita selalu
bermunajat pada-Nya dan sungguh-sungguh dalam berdo'a agar kita dijauhkan dari
hati yang tidak khusyu' dan mata yang tidak bisa menangis
Pengajian
6.
MERENUNGI
HIDUP
apa aku sudah zuhud ?
I.
Pengertian Zuhud
Di antara ayat-ayat yang mendorong bersikap zuhud di dunia adalah :
20. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta
dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.
(Al-Hadid
57 : 20)
1.Berkata Imam Ahmad :
الزهد
في الدنيا قصر الآمل
“Zuhud
terhadap dunia adalah pendek angan-angan
2Berkata Abdul Wahid bin Zaid :
الزهد
في الدني والدرهام
Zuhud adalah terhadap dunia dan dirham”.
3. Al-Junaid ditanya mengenai zuhud, beliau berkata :
الزهد استسغار الدني, ومحو آثارها من القلب
“Zuhud adalah menganggap dunia itu kecil dan
menghilangkan bekasnya dari hati
4. Peryataan Ibrahim Ad- Ham : Zuhud terbagi tiga ,yaitu
1.
Zuhud wajib
: artinya menghindari yang Haram
2.
Zuhud sunnah
:
artinya
Zuhud dari yang halal ( mengambil sekedar
untuk bekal sarana Ibadah )
3.
Zuhud keselamatan
:
artinya :” menghindari yang syubhat , agar tidak terjerumus pada Haram (
agar selamat dirinya )
II. TIPIKAL SEORANG
ZAHID
1. Tidak bergembira
dengan apa yang ada dan tidak bersedih dengan apa yang hilang (QS .al-hadid :
23)
2. Sama saja
dihadapannya orang yang mencelanya dan mencacinya
3. Senantiasa bersama
Allah dan hatinya didominasi oleh kelezatan ketaatan
III.JENIS-JENIS ZUHUD
1. Meninggalkan yang
dilarang (orang awam)
2.
Meninggalkan perkara yang boleh tapi melebihi kebutuhan (orang khusus)
3.
Meninggalkan hal-hal yang memalingkan dari Allah swt (orang yang ‘arif)
IV. TINGKATAN ZUHUD
1. Zuhud terhadap yang
syubhah
2. Zuhud terhadap
kelebihan
3. Zuhud terhadap zuhud
CARANYA
:
A.Menganggap
biasa apa yang dizuhudi .
Menganggap
sama semua keadaan yang ada pada dirinya.
B.Berorientasi hakekat
V. cara menggapai maqom
1.Memikirkan kehidupan akherat dan hisab
2.Dunia akan sirna
3.Menumbuhkan perasaan kenikmatan dunia dapat memalingkan hatinya dari dzikir kepada allah
Pengajian 7.
PENGERTIAN WIRA’I / WARO
1.Berwira’i mengandung makna :
Menjahui dari hal- hal yang haram dan
Syubhat.
Karena
wira’i merupakan inti Agama .
Ø
(Dalam
Buku Tanbighul ghafilin bab 64 hal 468-472 ) , dijelaskan
“ Wirai artinya :Berhati hati dalam melakukan hukum menghindari yang subhat
,Takut kepada yang haram.
2. Setiap sesuatu punya
batas , sedangkan batas batas Islam itu :
1.Wira’i ,
2. Tawdlu’ ,
3. Syukur ,
4.Sabar
( Demikian Abu Musa Asy’ari )
Penjelasan:
1.Wira’i adalah pokok utama dari segala sesuatu
2Tawadlu ‘ yang
berarti bebas dari kesombongan .
3.Syukur mencapai surga
4.Sabar
menyelamatkan diri dari neraka
3.Menrurut Al
Faqih Abu laits Samarqandi : bukti adanya
wira’i yaitu :
1.
Memelihara lisan dari Ghibah
2.
Tidak
berburuk sangka
3.
Tidak
menghina ( merendahkan) orang lain.
4.
Memelihara pandangan dari yang haram
5.
Bicara
benar
6.
Mengingat
nikmat Allah padanya , agar tidak sombong
7.
Menggunakan
hartanya dalam kebenaran bukan pada kebatilan
8.
Tidak
Ambisi kedudukan dan tidak pula berlaku sombong.
9.
Memelihara (waktu ) Sholat 5 x , dan menyempurnakan
ruku’ sujudnya
10. Istiqomah
mengikuti Sunnnah Rosul dan jamaah umat Islam
4.
Peryataan Ibrahim Ad- Ham : Zuhud
terbagi tiga ,yaitu
Zuhud wajib : artinya
menghindari yang Haram
Zuhud sunnah : artinya Zuhud
dari yang halal
( mengambil sekedar untuk bekal
sarana Ibadah )
Zuhud keselamatan : artinya :”
menghindari yang syubhat , agar tidak terjerumus pada Haram
( agar selamat
dirinya )
Pernyataanya pula “
Bahwa Wira’i juga ada 2 macam yaitu
:
1.Wira’i
Wajib / fardu . yakni menghindari
yang haram
2. Wira’i
berhati hati yakni menghindari yang syubhat
Selanjutnya marilah kita merenungi
Hadist
Keempat Puluh dari Arbain Nawawiyah :
Oleh : Imam An Nawawi
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ
صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ
غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ
فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ
لِمَوْتِكَ .
[رواه البخاري]
Terjemah hadits / ترجمة
الحديث :
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma
berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak
saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau
pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu
pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari,
gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk
kematianmu “
(Riwayat Bukhori)
Pelajaran :
1. Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan
memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu
kapan datang ajalnya.
2. Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum
sebelum hilangnya berlalu.
3. Zuhud di dunia berarti tidak bergantung
kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan
akhirat.
4. Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah
sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak
tersesat.
5. Waspada dari teman yang buruk hingga tidak
terhalang dari tujuannya.
6. Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa
dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk
tujuan akhirat.
7. Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan
mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal shaleh.
8. Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin
Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan.
Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya
kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini
dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan
Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan
oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.
Setelah kita merenungi Hadist mari kita lanjutkan
pembahasan kita tentang Zuhud dan wara
PERBEDAAN ANTARA ZUHUD DAN WARA
Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akherat sedangkan
waro’ adalah meninggalkan sesuaatu yang ditakuti bahayanya di akherat“
2.TINGKATAN
WARO'
1. Waro’ al ‘udhul
(orang yang adil) pelanggaran terhadap yang haram adalah kefasikan.
2. Waro’ al-muttaqin, yaitu meninggalkan apa yang tidak berdosa karena
takut terhadap apa yang berdosa. 3.
Waro’ ash-shiddiqin, yaitu halal dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang
tidak ada sebab-sebab kemaksiatan
Di antara ayat-ayat yang mendorong bersikap zuhud di dunia. Mari kita renungkan firman Allah :
20. barang siapa yang menghendaki
Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa
yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari
Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.(Asy-Syuuraa 42 : 20)
Firman
Allah
اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ
بَيْنَكُمْوَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِعَذَابٌ شَدِيدٌ
20. Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan
dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu. ( QS .
AL HADIT :20)
Dalam memahami hakikat zuhud :
“Tidaklah yang dimaksud dengan zuhud adalah menolak dunia, seperti kekuasaan,
adalah Sulaiman dan Dawud ‘alaihima salam adalah termasuk orang terzuhud pada
masanya, namun mereka memiliki harta, kerajaan dan para istri. Sesungguhnya
zuhud terhadap dunia tidaklah sebatas perkataan-perkataan yang disukai semata,
namun zuhud merupakan perkara yang harus bagi setiap orang yang menghendaki
Ridha Allah ' beserta ganjaran surganya, mencukupkan diri dengan keutamaannya
yang mana zuhud merupakan ikhtiarnya
Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para
sahabatnya.
Semoga kajian ini bermanfaat bagi kita .
Pengajian 8 :
CINTA KEPADA ALLAH
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
165. dan diantara
manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari
kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). .” (QS. Al Baqarah, 165).
[106] Yang dimaksud
dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.
Firman
Allah :
24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak ,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang
kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad
di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. ” (QS. At taubah, 24).
Dalam Hadist Dijelaskan :
“ Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiallahu’anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"لا
يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين".
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku
lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya”.
Juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Anas Radhiallahu’anhu
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان
: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن
يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار".
وفي رواية : " لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى ... إلى آخره.
“Ada tiga perkara, barang siapa terdapat di dalam dirinya ketiga
perkara itu, maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu : Allah dan
RasulNya lebih ia cintai dari pada yang lain, mencintai seseorang tiada lain
hanya karena Allah, benci (tidak mau kembali) kepada kekafiran setelah ia
diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan kedalam
api”.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata :
"من
أحب في الله، وأبغض في الله، ووالى في الله، وعادى في الله، فإنما تنال ولاية الله
بذلك، ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك، وقد صار عامة
مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا" رواه ابن جرير.
“Barangsiapa yang mencintai seseorang karena Allah, membenci karena Allah,
membela Karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan
pertolongan Allah itu diperolehnya dengan hal-hal tersebut, dan seorang hamba
tidak akan bisa menemukan lezatnya iman, meskipun banyak melakukan sholat dan
puasa, sehingga ia bersikap demikian. Pada umumnya persahabatan yang dijalin di
antara manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu
tidak berguna sedikitpun baginya”.
Pengajian 9. TAKUT
KEPADA ALLAH
Firman
Allah Subhanahu wata’ala :
175. Sesungguhnya mereka
itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya
(orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka,
tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran, 175).
|·
18. hanya yang
memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan
hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat,menunaikan zakat dan tidak takut
(kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang
diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At Taubah, 18).
10. dan di antara
manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", Maka
apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah
manusia itu sebagai azab Allah[1145]. dan sungguh jika datang pertolongan dari
Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya Kami adalah besertamu".
Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? (QS. Al ankabut, 10).
Keterangan [1145]
Maksudnya: orang itu takut kepada penganiayaan-penganiayaan manusia terhadapnya
karena imannya, seperti takutnya kepada azab Allah, karena itu ditinggalkannya
imannya itu.
Diriwayatkan dari Aisyah, ra. Bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
bersabda :
"من التمس رضا الله بسخط
الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه
وأسخط عليه الناس " رواه ابن حبان في صحيحه.
“Barangsiapa yang mencari Ridho Allah sekalipun dengan resiko mendapatkan
kemarahan manusia, maka Allah akan meridhoinya, dan akan menjadikan
manusia ridho kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan
melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka
kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya” (HR.
Ibnu Hibban dalam kitab shohehnya).
TAWAKKAL KEPADA ALLAH
Firman
Allah Subhanahu wata’ala :
23. berkatalah dua orang
diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat
atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu,
Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah
hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang
beriman". (QS. Al Maidah, 23).
2. Sesungguhnya
orang-orang yang beriman[594] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[595]
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman
mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. ” (QS. Al Anfal, 2)
penjelasan
[594] Maksudnya: orang
yang sempurna imannya.
[595] Dimaksud dengan
disebut nama Allah Ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan
memuliakannya.
.
Hai Nabi, cukuplah
Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.(QS. Al Anfal, 64).
]ومن يتوكل على الله فهو حسبه[
“ … dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya” (QS. At tholaq, 3).
]حسبنا الله ونعم الوكيل[
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”
(QS. Ali Imran, 173).
Kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim saat beliau dicampakkan ke
dalam kobaran api, dan diucapkan pula oleh Nabi Muhammad disaat ada yang
berkata kepada beliau : “Sesungguhnya orang-orang quraisy telah mengumpulkan
pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, tetapi
perkataan itu malah menambah keimanan beliau …” (QS. Ali Imran, 173).
Pengajian ke 10
Jalan Menuju Qana'ah
Qana'ah
(RELA DAN MENERIMA PEMBERIAN ALLAH SUBHANAHU
WATA’ALA APA ADANYA)
QONA’AH adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi
siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan
jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan
memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.
Namun meskipun demikian kita dituntut
untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya
menuju sikap zuhud dan qana'ah
Berikut ini beberapa kiat menuju qana'ah
yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat
merealisasikan nya.
Di antaranya yaitu:
1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala
Juga membiasakan hati untuk menerima apa
adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala,
karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia
mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan
makan di hari itu
2.
Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, "Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya." (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, "Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya." (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)
3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur'an yang
Agung.
Terutama sekali ayat-ayat yang
berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). 'Amir bin Abdi Qais pernah
berkata, "Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore
hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan
apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan
berpagi-pagi, (yaitu): Allah subhanahu wata’ala
berfirman,
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا
مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيم
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada
manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa
saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk
melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ
إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ
يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Dan jika Allah
menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia
memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara
hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)
وَمَا
مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِين
Dan tidak ada suatu
binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS.
Huud:6)
7. hendaklah orang yang mampu memberi
nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi
nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban
kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah
kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (QS. ath-Thalaq:7) .
5
Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki
Allah subhanahu wata’ala berfirman
,
32. Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami
telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat,
agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan
rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
(QS. az-Zukhruf:32)
6. Banyak Memohon
Qana'ah kepada Allah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana'ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberikan qana'ah, beliau bedoa,
"Ya Allah berikan aku sikap qana'ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik." (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana'ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberikan qana'ah, beliau bedoa,
"Ya Allah berikan aku sikap qana'ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik." (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)
Pengajian Ke 11
Merenungi makna
Tasyakur , Tadzakur,
tafffakur
Kh. Hamim Jajuli.
( gus miek ) tokoh sentral MANTAB
dan dzikrul ghofilin menjelaskan
“:Buah
dari dzikrul ghofilin adalah tasyakur , tadzakur dan taffakur “
Mengenang nasehat
Beliau dalam kesempatan ini saya mencoba menjabarkan tentang tasyakur , tadzakur dan taffakur “
1.
Makna Dan Hakekat Syukur
Hakekat
syukur terhadap nikmat Alloh adalah
menampakkan pujian dengan lisan,
kecintaan di hatinya dan ketaatan pada anggota tubuhnya.
Syukur dibangun di atas lima landasan utama:
1.Ketundukan kepada Alloh,
2.Kecintaan kepada-Nya,
3.Pengakuan terhadap nikmat-Nya,
4.Pujian kepada-Nya
5.Tidak
menggunakannya dalam kemaksiatan kepada
Alloh.
Saya menyalin dari buku : La Tahzan, jangan
bersedih / 'Aidh al-Qarni; penerjemah, Samson Rahman; penyunting, Syamsuddin TU
dan Anis Maftukhin. -Jakarta: Qisthi Press, 2004.
Pikirkan dan Syukurilah!
Artinya, ingatlah setiap nikmat yang
Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari
ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.
Kesehatan badan, keamanan negara,
sandang pangan, udara dan air,semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah,
Anda memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Anda menguasai
kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya.
{Dan, Dia
menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.} (QS. Luqman: 20)
Anda memiliki dua mata,
satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua kaki.
{Maka nikmat Rabb kamu
yang manakah yang kamu dustakan?}(QS. Ar-Rahman: 13)
Apakah Anda mengira bahwa, berjalan
dengan kedua kaki itu sesuatu yang sepele, sedang kaki acapkali menjadi bengkak
bila digunakan jalan terus menerus tiada henti?
Apakah Anda mengira bahwa berdiri tegak di atas kedua betis itu sesuatu
yang mudah, sedang keduanya bisa saja tida kuat dan suatu ketika patah?
Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita
manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar Anda masih banyak yang
tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya?
Pernahkah Anda merasa nista manakala dapat
menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar Anda
yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?
Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi
pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan Anda dari ketulian. Coba renungkan
dan raba kembali mata Anda yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit Anda yang
terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi
otak Anda yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan.
Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung Uhud, atau
menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah Anda mau membeli istana-istana
yang menjulang tinggi dengan lidah Anda, hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar
kedua tangan Anda dengan untaian
mutiara, sementara tangan Anda buntung?
Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam
kenikmatan tiada tara dan kesempumaan
tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun
Anda masih mempunyai nasi hangat untuk
disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus
berbuat.
Anda acapkali memikirkan sesuatu yang
tidak ada, sehingga Anda pun lupa
mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal,
sesungguhnya Anda masih memegang kunci
kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian,karunia, kenikmatan, dan
lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan
kemudian syukurilah!
Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada
diri, keluarga, rumah,pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di
sekeliling Anda. Dan janganlah termasuk golongan
{Mereka mengetahui
nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.} (QS. An-Nahl: 83)
Allah
subhanahu wata’ala berfirman,
7.
dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)
2.DZIKIR
Untuk
mengawali kajian tentang dzikir marilah kita merenungi Hadits No. 1567 dari Bulughul maram
َعَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
( يَقُولُ اَللَّهُ -تَعَالَى-: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ
بِي شَفَتَاهُ ) أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ
وَذَكَرَهُ اَلْبُخَارِيُّ تَ
Dari Abu Hurairah
Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Allah berfirman: Aku selalu bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan
kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku." Riwayat Ibnu Majah. Hadits shahih
menurut Ibnu Hibban dan mu'allaq menurut Bukhari.
1.Mengapa
berdzikir ?
1.Menghadirkan
asma Allah membawa efek yang sangat besar terhadap kedalaman dan kemantapan
iman .
2. Mendekatkan
diri kepada Allah sehingga mendapatkan nur dari-Nya
3. Menyucikan hati,
menenangkan jiwa dan menjernihkan pikiran
4 Menjadikan seseorang bener dan pinter
5.Menentramkan hati
Allah subhanahu
wata’ala berfirman,
28.
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram . (Ar-Ra’du; 28)
2.Tingkatan
dzikir
Ø
Dzikir dengan ucapan/ dzikir lisan
Ø
Dzikir hati dan lisan seca-ra terpaksa
Ø
Dzikir hati dan lisan tanpa keterpaksaan
Ø
Dzikir dalam segala keadaan
Ø
Dzikir hati dan lisan adalah apa yang diucapkan
di lisan sesuai dengan yang terlukis di dalam hati
3.Struktur hati manusia
dalam berdzikir :
1. Qalbu
Dzikir
lisan
2.Fuad
Dzikir hati dan lisan dengan terpaksaan
3. Dhomir
Dzikir hati dan lisan tanpa keterpaksaan
4.Sirr
Dzikir
dalam segala keadaan
4.Etika berzikir
1. Yang pertama dan utama
adalah hadirnya hati ketika lisannya mengucap dzikir . Kunci tercapainya
tu-juan dan maksud yang diinginkan
2.Dalam kesopanan dan
perilaku yang sempurna lahir batin.
3.Suci dan bersih dari
kotoran hati dan kotoran badan (hadas dan najis)
4.Tunduk
dan tadharru’ berhadapan dengan Allah, penuh penghormatan atas kebesaran dan
keagungan-Nya
5.Menghadap
kiblat
5. Etika
dalam berdoa
1.Pembukaan
membaca:
Basmalah , Hamdalah ,
Solawat pada Nabi SAW
2.Doa yang diinginkan
3.Penutup membaca;
*Solawat
pada Nabi Muhammmad SAW
* Hamdalah
Nabi Muhammad SAW
Bersabda :
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
( يَقُولُ
اَللَّهُ -تَعَالَى-: أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي
شَفَتَاهُ )
Dari Abu Hurairah
Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Allah berfirman: Aku selalu bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan
kedua bibirnya bergerak
menyebut-Ku." Riwayat Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan
mu'allaq menurut Bukhari
Hadits No. 1567 bullughul marom
وَعَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم
( مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا يَذْكُرُونَ اَللَّهَ إِلَّا حَفَّتْ بِهِمُ
الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ
عِنْدَهُ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِم
Dari Abu Hurairah
Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Suatu kaum tidak duduk dalam suatu tempat untuk berdzikir kepada Allah
kecuali mereka dikelilingi oleh para malaikat dan diliputi rahmat dan Allah
menyebut mereka termasuk orang-orang yang ada di dekat-Nya."
Riwayat Muslim. (Hadits No. 1569)
6.Berfikir
(tafakkur) tentang apa?
1. Bukti ciptaan Allah dan
keindahannya di langit dan bumi
menghasilkan pengenalan (makrifat) kepada Allah
2. BERFIKIR
Pemberian dan karunia Allah berupa
kenikmatan ukhrawi dan dunia
Allah subhanahu
wata’ala berfirman,
وَمَا
مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan tidak ada suatu
binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia
mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)
3.Berfikir Kewajiban
terhadap Allah dan kurangnya pengabdian kepada-Nya.Maka akan membuahkan
ketekunan ibadat dan bersegera memenuhi hak-hak Allah atas hamba-Nya
4. Berfikir Harta benda dan kemewahan duniawi
cepatnya hilang tidak sepadan dengan kesulitan mem perolehnya dan
membuahkan zuhud dan menjauhinya dari keserakahan memilikinya.
Allah
subhanahu wata’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي
حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي
الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah
keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia
Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya
suatu bahagianpun di akhirat.” (Asy-Syuuraa
42 : 20)
Untuk
melengkapi kajian tentang taffakur maka
saya mengutip dari buku : karangan :
Imam Habib Abdullah Alwi Haddad
yang bejudul :
“Risalutul-Murid”
Petunjuk .Jalan Thariqat edisi bahasa Melayu
Lazimkan
Diri Bertafakkur
Hendaklah kamu memperbanyak bertafakkur
yang terbahagi kepada tiga:
1) Tafakkur dalam keajaiban kudrat Tuhan
Maha Berkuasa dan keindahan Kerajaan
langit dan bumi. Buah tafakkur ini ialah
untuk mencapai makrifat (pengenalan) kepada Allah swt.
2) Tafakkur dalam anugerah Tuhan dan
nikmat-nikmatNya yang begitu banyak diberikan
kepada makhluk-makhlukNya. Buah tafakkur ini ialah untuk mencetuskan
perasaan cinta terhadap Allah swt.
3) Tafakkur dalam urusan dunia dan
urusan akhirat dan hal-ehwal semua makhlukmakhlukNya yang berkecimpung didalam kedua-dua kehidupan
tersebut. Buah tafakkur ini ialah untuk
timbul sifat membelakangkan dunia serta cenderung kepada akhirat.
Tafakkur sebenarnya ialah pengambilan
dari ilmu pengetahuan oleh akal zahir kepada akal yang bersuluhkan nur (cahaya Allah). Tahap
ini terjadi sebagai perbincangan bila bertafakkur menjalankan tugasnya didalam merenungi segala ciptaan Allah Taala dengan
penangkapan penglihatan yang zahir
bersandarkan ilmu pengetahuan kepada akal yang
bercahaya dari Allah Taala.
.
Diri sendiri yang
bertanya dan diri yang menjawab.
Dengan bantuan dan pertolongan
cahaya nur dapat membukan kefahaman terha
dap perkara-perkara yang tidak difahami oleh akal zahir sebelumnya.
Tugas diri yang bertanya mendapat jawapan yang
memuaskan dari tugasan diri yang menjawab. Perkara tersebut hanya
boleh dilakukan bila perjalanan sudah teguh bermaksud diri dapat
menjalankan perintah suruhan dan menjauhi laranganNya.
Memperbanyak bertafakkur dalam
keajaipan kudrat Tuhan Maha Berkuasa dari ciptaanNya dan keelokkan (kecantikan) pada segala yang
ada dilangit dan bumi. Dengan melihat akan keajaipan ciptaanNya akan membawa kepada
kebesaran dan keagunganNya dan membuahkan keyakinan lebih yakin lagi akan sifat
Tuhan Yang Maha Berkuasa. Hasilnya ialah akan
tercapailah makrifat iaitu pengenalan kepada Tuhan.
Memperbanyak bertafakkur
dalam pemberian nikmat-nikmatNya yang begitu banyak sekali pada diri sendiri dan kepada semua
makhluk-makhluk ciptaanNya. Pertama sekali duduk . Sekian cuplikan yang bisa saya sampaikan
semoga menambah pemahaman tentang
taffakur.
Sahabatku marilah kita memperbaiki Dzikir, Syukur dan Taffakur kita dan
semoga kajian ini membawa manfaat bagi kita .
رَبِّ
اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
"Wahai
Tuhanku, ampunkanlah bagiku dan bagi saudaraku, dan masukkanlah Kami ke Dalam
rahmatMu, kerana Engkaulah sahaja Yang Maha Mengasihani dari Segala Yang lain
Mengasihani
حَسْبِيَ
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَآَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Cukuplah bagiku Allah
(yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan
dia; kepadanya Aku berserah diri, dan Dia lah Yang mempunyai Arasy Yang
besar."
Amiin
Pengajian ke 12
Membangun
Keseriusan dan Kesungguhan dalam kehidupan
Kesungguhan dan keseriusan seorang muslim merupakan cerminan jiwa yang telah tersiram oleh Kitabullah. Karena al-Qur'an adalah Kitab yang Haq yang tidak ada laghwu (kesia-siaan) dan juga tidak ada senda gurau di dalamnya.
13. Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman
yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. 14. dan sekali-kali bukanlah
Dia senda gurau. (QS.Ath Thaariq 86:13-14)
Maka seorang muslim yang serius dan bersungguh-sunggah berarti dia telah berhias dan berakhlaq dengan akhlaq al-Qur'an.
Seorang muslim yakin bahwa dia diciptakan bukan hanya untuk sebuah senda
gurau atau main-main di muka bumi, namun dia sadar bahwa dirinya mengemban
amanah yang besar, amanah yang tidak sanggup dipikul oleh langit, bumi dan
gunung, sebuah pertanggungjawaban yang agung nanti di hari Kiamat. Maka seorang muslim yang serius dan bersungguh-sunggah berarti dia telah berhias dan berakhlaq dengan akhlaq al-Qur'an.
Allah subhanahu wata’ala berfirmaN
Keseriusan dan kesungguhan memiliki tanda-tanda dan fenomena yang amat banyak, di antaranya yaitu:
1. Ikhlash
Ikhlas merupakan salah satu pembeda yang pokok antara seorang yang bersungguh-sungguh dengan yang main-main. Orang yang tidak ikhlas, maka bisa jadi seorang munafik dan bisa jadi adalah riya'. Sedangkan orang muslim yang sesungguhnya, tidak berbuat munafik dan tidak riya', sebab tujuannya adalah ridha Allah subhanahu wata’ala dan mengharap pahala-Nya.
عَنْ أَمِيْرِ
الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ
إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى
مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد
الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم
بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Arti
Hadits / ترجمة الحديث :
Dari
Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya
mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya
setiap perbuatan tergantung
niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan
dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin
mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan)
Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya
atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai
sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat
dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah
bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al
Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang
paling shahih yang pernah dikarang) .
Pelajaran yang terdapat
dalam Hadits / الفوائد من الحديث :
Niat merupakan syarat
layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan
mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
Waktu pelaksanaan niat
dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
Ikhlas
dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal
shalih dan ibadah. Seorang
mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya. Semua perbuatan
yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan
Allah maka dia akan bernilai ibadah. Yang membedakan antara ibadah dan adat
(kebiasaan/rutinitas) adalah niat. Hadits
di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan
pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan
dalam hati, diucapkan.
2. Ittiba' (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Ini merupakan pembeda ke dua dari keseriusan seorang muslim, karena seorang muslim akan berusaha maksimal agar amal ibadahnya diterima, sedangkan suatu amal akan diterima jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba'ah.
Maka tidak akan ada gunanya keseriusan orang kafir dalam kekafiran mereka, ahli bid'ah dholalah , Ahli ahli fitnah dan para pengikut kebatilan dalam kebatilan yang mereka kerjakan. Keseriusan yang mereka lakukan bukan keseriusan yang sesuai syari'at yang dapat mengantarkan kepada keberuntungan dan pada hari Kiamat.
3. Adil dan Pertengahan ( Tawazun)
Serius bukan berarti ekstrim atau berlebihan, namun maknanya adalah adil dan pertengahan. Allah subhanahu wata’ala melarang dari sikap ghuluw (ekstrim), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa ghuluw merupakan sebab kehancuran dan kerusakan. Sikap pertengahan akan dapat memelihara kelangsungan suatu amal, kontinyuitas dalam ketaatan dan menjaganya agar tidak terputus atau mengalami kebosanan.
4. Intensif / istiqomah dalam Ketaatan
Intensif dalam melakukan ketaatan dan mengambil setiap kesempatan untuk melaksanakan berbagai bentuk ibadah, bersyukur dan berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala dan terus menambah hal itu bukan termasuk ghuluw selagi dilakukan dalam batas-batas syara'.
Sebagaimana dimaklumi bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dan mempertahankan ketaatan, membuka pintu-pintuk kebaikan dan ikut andil di dalamnya merupakan penambah keimanan sekaligus merupakan bukti dari kesungguhan seorang muslim dalam beribadah.
5. Jelas Dalam Tujuan
Seorang muslim meskipun berbeda profesi dan bermacam-macam bidang yang mereka geluti namun mereka memiliki tujuan pokok dan prinsip yang sama yakni mencari keridhaan Allah subhanahu wata’ala dan mengharap pahala di sisi-Nya. Oleh karena itu seorang muslim menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk ibadah, wasilah dan sarana untuk mencapai tujuan pokok tersebut.
Dengan tujuan yang terpuji ini maka kita dapat menjadikan tidur, makan,minum, kesibukan dan juga waktu luang kita sebagai bagian dari ibadah yang mendapatkan pahala, jika diniatkan dengan benar ketika melakukaknnya.
6. Berkemauan Tinggi
Berkemauan tinggi merupakan ciri dari orang-orang yang serius, sebab seorang yang berkemauan tinggi tidak rela dengan kemalasan, tidak mudah bosan dan tidak suka berleha-leha. Keinginannya selalu menggiringnya kepada perkara-perkara yang tinggi dan permasalahan yang besar, maka di antara mereka ada yang tekun dalam mendalami ilmu, ada yang serius dalam beribadah, ada yang sungguh-sungguh dalam menerapkan akhlaq dan adab dan lain sebagainya. Meskipun umur mereka pendek, namun dengan keseriusan dan kesungguhan, mereka mampu berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lebih sempurna, dari satu kedudukan ke kedudukan yang lebih tinggi dan seterusnya hingga ajal menjemput.
2. Ittiba' (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Ini merupakan pembeda ke dua dari keseriusan seorang muslim, karena seorang muslim akan berusaha maksimal agar amal ibadahnya diterima, sedangkan suatu amal akan diterima jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba'ah.
Maka tidak akan ada gunanya keseriusan orang kafir dalam kekafiran mereka, ahli bid'ah dholalah , Ahli ahli fitnah dan para pengikut kebatilan dalam kebatilan yang mereka kerjakan. Keseriusan yang mereka lakukan bukan keseriusan yang sesuai syari'at yang dapat mengantarkan kepada keberuntungan dan pada hari Kiamat.
3. Adil dan Pertengahan ( Tawazun)
Serius bukan berarti ekstrim atau berlebihan, namun maknanya adalah adil dan pertengahan. Allah subhanahu wata’ala melarang dari sikap ghuluw (ekstrim), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa ghuluw merupakan sebab kehancuran dan kerusakan. Sikap pertengahan akan dapat memelihara kelangsungan suatu amal, kontinyuitas dalam ketaatan dan menjaganya agar tidak terputus atau mengalami kebosanan.
4. Intensif / istiqomah dalam Ketaatan
Intensif dalam melakukan ketaatan dan mengambil setiap kesempatan untuk melaksanakan berbagai bentuk ibadah, bersyukur dan berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala dan terus menambah hal itu bukan termasuk ghuluw selagi dilakukan dalam batas-batas syara'.
Sebagaimana dimaklumi bahwa iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Dan mempertahankan ketaatan, membuka pintu-pintuk kebaikan dan ikut andil di dalamnya merupakan penambah keimanan sekaligus merupakan bukti dari kesungguhan seorang muslim dalam beribadah.
5. Jelas Dalam Tujuan
Seorang muslim meskipun berbeda profesi dan bermacam-macam bidang yang mereka geluti namun mereka memiliki tujuan pokok dan prinsip yang sama yakni mencari keridhaan Allah subhanahu wata’ala dan mengharap pahala di sisi-Nya. Oleh karena itu seorang muslim menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk ibadah, wasilah dan sarana untuk mencapai tujuan pokok tersebut.
Dengan tujuan yang terpuji ini maka kita dapat menjadikan tidur, makan,minum, kesibukan dan juga waktu luang kita sebagai bagian dari ibadah yang mendapatkan pahala, jika diniatkan dengan benar ketika melakukaknnya.
6. Berkemauan Tinggi
Berkemauan tinggi merupakan ciri dari orang-orang yang serius, sebab seorang yang berkemauan tinggi tidak rela dengan kemalasan, tidak mudah bosan dan tidak suka berleha-leha. Keinginannya selalu menggiringnya kepada perkara-perkara yang tinggi dan permasalahan yang besar, maka di antara mereka ada yang tekun dalam mendalami ilmu, ada yang serius dalam beribadah, ada yang sungguh-sungguh dalam menerapkan akhlaq dan adab dan lain sebagainya. Meskipun umur mereka pendek, namun dengan keseriusan dan kesungguhan, mereka mampu berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang lebih sempurna, dari satu kedudukan ke kedudukan yang lebih tinggi dan seterusnya hingga ajal menjemput.
7. Berteman dengan Orang Serius dan sungguh sungguh
Salah satu hal yang dapat menjadi kan seorang muslim tetap dalam keseriusan adalah berteman dengan orang serius, karena manusia akan terpengaruh dengan teman pergaulan nya. Jika seseorang berteman dengan orang yang senang berbuat sia-sia, main-main dalam hidup, senang kepada kebatilan, menyia-nyiakan waktu, maka dia pun akan terpengaruh oleh mereka dan akan menjadi salah satu bagian dari mereka.
8. Tegar Menghadapi Masalah
Orang yang sungguh-sungguh akan tegar dalam menghadapi masalah dan dia tidak lari darinya tanpa berusaha mencari solusinya. Dia hadapi masalah dengan bijak dan tenang, dan ia jadikan itu sebagai tonggak untuk memulai sebuah langkah baru, sehingga dengan kemampuan dan pikiran yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala permasalahan akan terselesaikan dan jalan keluar dari berbagai ujian dan cobaan akan diperoleh.
Di antara yang perlu diperhatikan adalah mencari waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah, yakni waktu-waktu yang lapang dan tenang untuk dapat merenung dan mencurahkan pikiran dengan maksimal. Selain itu juga terkadang perlu untuk meminta pendapat dari pihak lain, terutama teman-teman dan sahabat yang diketahui responsif, mempunyai kemampuan berpikir dengan teliti dalam memandang suatu masalah.
9. Syamil (Universal)
Seorang muslim yang bersungguh sungguh tidak pilih-pilih dalam melaksanakan agamanya, sebagai mana hal itu diperintahkan Allah subhanahu wata’ala dalam firman ALLAH
ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arßtã ×ûüÎ7B
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan,
dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu
musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah:208) Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, " Makna ayat ini adalah kerjakan seluruh amal perbuatan dan seluruh sisi kebaikan." (Tafsir Ibnu Katsir 1/324)
Seorang muslim tidak boleh membuang bagian dari agama Allah sekehendaknya, mengambil yang ini dan meninggalkan yang itu sesukanya. Juga bukan cermin keseriusan bila hanya mengerjakan perkara-perkara yang mudah dan enak saja lalu enggan dengan berbagai kewajiban lainnya.
10. Pantang Menunda-nunda
Seorang yang berjiwa serius pantang menunda-nunda dan pantang bersandar kepada angan-angan dusta. Tetapi dia bersegera untuk melakukan ketaatan, menyibukkan diri dengan ibadah dan aktivitas yang berguna. Dia bertaubat dan beristighfar setiap saat, sebelum dan sesudah melakukan ibadah, dan dia tidak mengatakan, "Nanti saja aku bertaubat, besok saja aku introspeksi diri dan lain sebagainya.” Dia kerjakan shalat dengan baik dan tepat waktu, membaca al-Qur'an dan merenungkan isinya dan dia tidak mengatakan, "Nanti aku akan shalat dengan baik dan banyak membaca al-Qur'an."
11. Melihat Sirah Nabi dan Shahabat
Termasuk salah satu pendorong kesungguhan adalah dengan melihat perjalanan hidup para nabi dan shahabat sebagai manusia yang penuh dengan kesungguhan dalam hidup mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf:111)
12. Menjauhi Sikap Glamour dan Mewah
Setiap orang yang berakal sepakat bahwa nikmat itu tidak dapat diperoleh dengan leha-leha, dan kemuliaan tidak akan tercapai kecuali dengan susah payah. Maka menghindari gaya mewah dan menjauhi sikap berlebihan merupakan jalan untuk mencapai tingginya himmah (keinginan). Sebagian Ulama berkata, "Ilmu itu tidak dapat diraih dengan bersantai-santai."
Firman Allah dalam QS. At takasur 1- 8
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu[1598],
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3.
janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan
mengetahui.
5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan
pengetahuan yang yakin,
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat
neraka Jahiim,
7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan
melihatnya dengan 'ainul yaqin[1599].
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari
itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
[1598] Maksudnya: Bermegah-megahan dalam soal
banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu
dari ketaatan.
[1599] 'ainul yaqin artinya melihat dengan mata
kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat.
Sabda Nabi SAW
عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل
بِنْ سَعْد السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى
عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ :
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ
يُحِبُّكَ النَّاسُ .
[حديث حسن رواه ابن ماجة
وغيره بأسانيد حسنة]
Terjemah
hadits / ترجمة الحديث
Dari Abu Abbas Sahl bin
Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata : Seseorang mendatangi Rasulullah
shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata : Wahai Rasulullah,
tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan
mencintaiku, maka beliau bersabda: Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan
dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan
dicintai manusia.
(Hadits
hasan riwayat Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan
Pelajaran yang terdapat
dalam hadits / الفوائد من الحديث:
1.
Menuntut kecukupan terhadap dunia adalah perkara wajib, sedang zuhud adalah
tidak adanya ketergantungan dan terpusatnya perhatian terhadapnya.
2. Bersikap qanaah terhadap rizki yang halal dan
ridho terhadapnya serta bersikap ‘iffah dari perbuatan haram dan hati-hati
terhadap syubhat.
3. Jiwa yang merasa cukup dan iffah serta berkorban
dengan harta
Sumber: Al quran Diqital in word , Hadist
arbaain nawawaiyah
BAB 2 Perbaiki Dirimu
DAKWAH DAN MANAGEMANT
DAFTAR ISI
Pengajian ke 1.
PENGELOLAAN
DAKWAH (MANAGEMENT DAKWAH)
Pengajian ke 2
Manajemen Dakwah Keluarga
Pengajian ke 3
.
Agar
Dakwah Lebih Berkah
Pengajian ke 4 .
Pentingya
Terbentuknya Majelis Taklim Dan Dzikir
Sebagai Sarana Dakwah
Pengajian ke 5 . Retorika dakwah
Pengajian ke 1.
PENGELOLAAN DAKWAH (MANAGEMENT DAKWAH )
A.
Pentingnya Pengelolaan Dakwah :
1. Perintah
Allah untuk berdakwah secara jama'i / kolektif
`
4. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217];
merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imron 104)
[217]
Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar
ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
2.
Keterbatasan Potensi manusia / da'I ( Kisah Musa & Harun QS Thoha
29-32)
4.Efektifitas dan Efisiensi Dakwah ( Kisah Nabi Nuh )
B.Tujuan Pengelolaan Dakwah Umum:
1.Bagi Individu
A. Pemberantasan Pengangguran dalam Dakwah
B. Pencegahan dari Aktifitas yang merusak / maksiat
C. Melatih kepemimpinan di tengah masyarakat
D. Peningkatan iman dan akhlak
2.Bagi
Lembaga Dakwah
A.Penerimaan
masyarakat terhadap lembaga ( Dukungan & Pembelaan)
B. Terjaganya kelangsungan risalah dakwah
3.Bagi Masyarakat
A. Menumbuhkan kembali nilai-nilai islam yang terlupakan.
B.
Pencegahan dari tersebarnya kerusakan dan maksiat.
C. Meningkatkan kualitas keislaman masyarakat.
C. Tahapan Pengelolaan Dakwah
1.
Pemilihan Individu
2. Pembentukan Wadah
3.Pengelolaan
Program
4.Perluasan Jaringan
Penjelasan :
1. Pemilihan Individu :
Ø Penentuan jumlah SDM minimal
Ø Pemilihan dari sisi loyalitas dan kedekatan
Ø Pemilihan dari sisi distribusi potensi
Ø Peningkatan hubungan Intra personal Re-Komitment
2.Pembentukan Wadah :
Ø Penentuan Wadah / Lembaga ( Berdasar Segmentasi
dll)
Ø Penyamaan Visi Awal
Ø Penyiapan dan pengumpulan Modal Awal
Ø Pendirian Resmi dan
Komponen-komponennya.
3. Pengelolaan
Program
Ø Perencanaan ( PLANING)
Ø Pengorganisasian ( ORGANIZING)
Ø Pelaksanaan (ACTUATING)
Ø Evaluasi dan Pengawasan (CONTROLLING)
A. PERENCANAAN
Ø S : Simple and Specific (sedehana
dan khusus )
Ø M : Measurable ( terukur )
Ø A : Achievable atau Attainable
( mudahditerima )
Ø R : Rational atau Reasonable ( masuk
akal )
Ø T : Time Frame ( rentang waktu )
B. PENGORGANISASIAN
Ø
The Right
man on the right place ( memenpatkan orang yang sesuai )
Ø
Job
description ( pembagian kerja yang jelas
)
Ø Time Schedule ( pembuatan jadwal )
C. PELAKSANAAN
Ø Hindari :One man show
Ø Hindari : Saling Menggantungkan
Ø Banyak Hambatan tapi The Show must go on
D.
PENGAWASAN
n Forum Evaluasi dan LPJ
n Mekanisme Reward dan Punishment
4. PENGEMBANGAN & PERLUASAN
JARINGAN
A.
Birokrasi
B.
Pengusaha
C.
Tokoh Masyarakat
D.
LSM , Yayasan lain.
E.
Majlis Taklim, Lembaga
Dakwah.
5. SOLIDITAS & KADERISASI
- Penyiapan Pemimpin Organisasi yang Mumpuni
- Peningkatan Kompetensi & Loyalitas Anggota ( Pelatihan, Upgrading dll)
- Perekrutan SDM baru
Capaian Pemimpin Dakwah
n Konseptor ( sebagai pembuat kosep )
n Manager (sebagai pengelola )
n Motivator ( sebagai pendorong )
n Mediator ( sebagai penenah )
n Negosiator ( sebagai penego/ lobi /
pendekatan )
PENGELOLAAN DA'I
A.
Pemeliharaan Kompetensi ( kemampuan )Dasar bagi Da'i
B.
Peningkatan Kompetensi Praktis bagi Da'i
C.
Pengembangan Jaringan dan Media
D.
Penjagaan Standar ESQ ( Akhlak dan Ruhiyah dai )
E.
Keikhlasan dalam Beramal
F.
Peningkatan dai
( Ilmu Agama dan lainnya)
G.
Peningkatan Kompetensi Praktis bagi Da'I
"Kemampuan Publik Speaking ( Pidato , diskusi .dll )
H.
Kemampuan Memperluas Media Pembelajaran.
I.
Kemampuan Memperluas wilayah Pengaruh
Pengajian ke 2
Manajemen Dakwah Keluarga
Keluarga adalah kekuatan dan
ketenangan kita. Setiap hari kita akan menemukan energi baru saat memahami
betapa berharganya keluarga kita. Bayangkan saja apa yang terjadi jika saat
Anda membuka mata di pagi hari, tidak ada lagi istri di sisi, dan juga
anak-anak di rumah kita ?
Kehidupan kita pasti akan terguncang
luar biasa. Pekerjaan mudah akan terasa berat kita selesaikan. Kesuksesan
demi kesuksesan yang kita tapaki menjadi tidak berarti lagi. Hambar tanpa
adanya anak dan istri. Maka mari kita mensyukuri dengan nikmat keluarga kita
saat ini, apapun kondisinya.
Rasa syukur ini sebenarnya telah kita
pahami sejak awal.
Bahkan dalam keseharian kita
sering melantunkan doa tentang harapan dan cita-cita kita terhadap keluarga
ini. Salah satu doa yang sering kita lantunkan setiap hari adalah :
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا
قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Tuhan kami,
anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa
( QS Furqon 74)
Visi Pertama :
Menjadikan Anak dan Istri
sebagai Penyejuk Hati ( Qurrota
A’yun)
Tidaklah disebut penyejuk
hati kecuali mereka menjadi anak dan istri yang sholih dan sholihah. Menjalani perintah Al-Quran dan
as-Sunnah. Membahagiakan keluarga dengan
prestasi-prestasi sederhana yang membanggakan. Bukan sebaliknya, menjadi
fitnah dan ujian bagi keluarga.
Visi ini membutuhkan langkah-langkah yang seharusnya direncanakan sejak
awal, sebelum memulai mahligai rumah tangga. Tapi tidak ada kata terlambat
untuk kebaikan.
Visi Kedua :
Visi Kedua :
Menjadikan Keluarga
kita mempunyai Kontribusi dalam Masyarakat
( Lil Muttaqiina Imama)
Ini visi yang besar bagi keluarga kita. Bukan hanya bahagia di dalam rumah, tapi juga mampu menyebarkannya di luar rumah. Langkah riilnya adalah membekali anak, istri dan anggota keluarga dengan ketrampilan, dan mental berbagi dengan masyarakat. Mempunyai sesuatu yang akan dikontribusikan untuk tetangga sekitarnya. Membawa manfaat yang riil meskipun kecil.
Ini visi yang besar bagi keluarga kita. Bukan hanya bahagia di dalam rumah, tapi juga mampu menyebarkannya di luar rumah. Langkah riilnya adalah membekali anak, istri dan anggota keluarga dengan ketrampilan, dan mental berbagi dengan masyarakat. Mempunyai sesuatu yang akan dikontribusikan untuk tetangga sekitarnya. Membawa manfaat yang riil meskipun kecil.
Sungguh anggun ungkapan al-Quran, dimana
kita dituntun untuk menjadi pemimpin bagi orang yang bertakwa. Inilah pekerjaan
besar bagi saya dan Anda para pemimpin rumah tangga.
Kepada para sahabat yang juga intens memberikan pencerahan kepada masyarakat, saya persembahkan presentasi tentang dakwah keluarga ini.,dan semoga bermanfaat.
Kepada para sahabat yang juga intens memberikan pencerahan kepada masyarakat, saya persembahkan presentasi tentang dakwah keluarga ini.,dan semoga bermanfaat.
Pengajian ke 3 .
Agar Dakwah
Lebih Berkah
MENGAPA DAKWAH HARUS BERKAH ?
Pengertian BERKAH
adalah Tambahan Kebaikan di dunia dan di sisi
Allah.
Berkah : Kualitas / Efektif Dan Efisien ,Tepat Guna & Sasaran, Menjaga
Orisinalitas & Pahala Dakwah.
1.
Efek Dakwah Kurang Berkah :
Sakit-Sakitan ,
Prestasi Turun,
Mendapat
Fitnah,
Dijauhi Teman Dan Keluarga
2. Sebab-Sebab
Dakwah Kurang Berkah
a. Sebab Internal :
Tidak
Ikhlas ,
Tidak Tawazun (Tidak Seimbang ),
Isti’jal / Tergesa-Gesa
b.Sebab
Eksternal :
Harta, Kedudukan,
Musuh- Dakwah, Cinta
At-Tawazun fi ad-Dakwah
RINCIAN BAHASAN
Tawazun
artinya seimbang.
Allah
telah mengisyaratkan agar kita hidup seimbang, sebagaimana Allah telah
menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan.
1.PENGORGANISASIAN
a.The
Right man on the right place
b.Job
description ,
c.Time Schedule .
2. PELAKSANAAN
o
Hindari
:One man show
o
Hindari : Saling Menggantungkan
o
Banyak Hambatan
o
tapi The Show must go on
2.Tawazun
dalam UKHUWAH
a.Jebakan-jebakan
ukhuwahta’asshob / fanatik ,
b.Virus cinta ,
c.Toleransi yg salah
3.Tawazun
antara Dakwah & Keluarga
4. Tawazun antara Dakwah dan Ibadah
firman Allah SWT:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا
اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا
الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka
tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan
shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”
(QS al-Bayyinah : 5)
5.Tawazun dalam Orisinalitas dan Pengembangan dalam Dakwah
Setelah kita memahami tentang dakwah maka marilah kita memasuki pembahasan
tentang starategi dakwah .
DOA :
Saya memohon kepada Alloh untuk mempersatukan hati kita di atas ketaatan
kepada-Nya, menjadikan kita orang yang senantiasa berhukum kepada Alloh dan
Rasul-Nya dan mengikhlaskan niat kita serta menerangkan kepada kita segala hal
yang masih tersamar atas kita dari syariat-Nya, karena sesungguhnya Ia adalah
Maha Pemurah lagi Maha Mulia. AMIIN
Pengajian ke 4 .
Pentingya Terbentuknya Majelis Taklim Dan Dzikir
Sebagai Sarana Dakwah
I. Pendahuluan
Setiap
muslim harus berusaha memegang
teguh komitmen da'wah Islam. Artinya berusaha untuk
menda'wahkan Islam kepada umat
manusia serta berupaya
untuk terlibat dalam aktivitas da'wah islamiah.
Keterlibatan dalam da’wah dapat dilakukan dengan pikiran (bilfikr) dengan tindakan langsung (bilhal), dengan ucapan (billisan), dengan harta (bilmal), dengan tulisan (bilqalam) maupun dengan jiwa (binnafs). Semakin intensif dan beragam jenis
keterlibatan dalam aktivitas da’wah semakin lebih baik. arena
pentingnya dakwah di masa sekarang ini maka perlu sekali dibentuk Majelis Taklim dan dzikir .Pembentukan ini memiliki beberapa alasan mendasar :
1. Kebutuhan untuk berda’wah.
Dalam kehidupan
umat manusia diperlukan adanya segolongan orang yang peduli terhadap ‘amar ma’ruf nahi munkar. Kepedulian
tersebut, insya Allah, akan membawa dan menjaga umat manusia selalu berada di
jalan Allah. Para mujahid da’wah
termasuk orang-orang yang beruntung
karena telah mengikuti perintah dan seruan Rabb-nya.
`
dan hendaklah ada antara kamu segolongan umat
yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari
yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (QS 3:104, Ali
‘Imran).
2.. Perlunya berda’wah secara kolektif
dan profesional.
Misi da'wah dapat dilaksanakan secara individual, akan tetapi da’wah secara
kolektif dan profesional merupakan kebutuhan di era modern. Dengan bekerja sama seluruh potensi , insya
Allah, akan memberi hasil yang lebih efektif,
efisien, dan memuaskan dalam mencapai tujuan da’wah.
3. Merespon kebutuhan
da’wah yang beragam.
Begitu gencarnya orang
orang Yahudi , nasrani , materealis, dan para memuja sahwat bertindak
merusak , menyerang dan bahkan ingin menghacurkan Islam .
Menghadapi ini semua maka perlu
lembaga dakwah yang menghimpun seluruh kekuatan dakwah umat maka perlu dibentuk
Kegiatan/
lembaga / majelis DAK‘WAH ISLAM
.
Ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif merespon kebutuhan da’wah Islam yang semakin beragam.
Keberadaannya dalam rangka ber-fastabiqul
khoirat
menegakkan kalimat Allah. Dengan
mengembangkan metode da’wah yang mampu merespon
keinginan dan kebutuhan umat, insya
maka Untuk itu perlu didukung para aktivis da’wah yang ikhlas dan istiqomah yang mengedepankan sikap
mencari ridlo Allah serta diikuti dengan kinerja profesional.
II.
TUJUAN, VISI DAN
MISI
1.Tujuan jamaah
Terbinanya umat yang beriman,
berilmu dan beramal sholih dalam rangka mengabdi kepada Allah dan mengharap
keridloan-Nya“.dan pencapain tujuan Nahdlatul ulama’
2. Visi :
Insya Allah, menjadi lembaga pelayanan, pelatihan, konsultasi, pusat
data dan informasi serta pengembangan Da’wah Islam yang handal, kreatif dan
bermanfaat bagi masyarakat luas.
3.Misi :
1.Menghimpun dan
memaksimalkan potensi kader da’wah .
2.Menyelenggarakan
pelayanan, pelatihan dan konsultasi Da’wah Islam yang berkualitas.
3..Melakukan
pengkajian, pengembangan dan menghadirkan standard-standard Da’wah Islam.
4..Memasyarakatkan dan
mendorong peningkatan peran Da’wah Islam dalam rangka menuju
kebangkitan Islam.
KEGIATAN – KEGIATAN
1.
Pengkajian / pemahan dan tentang islam secara kaafah
2.
Membiasakan menyampiakan pendapat dalam diskusi dan
halaqoh .
3. Membahas permasalahan demi kemaslahatan umat
Membahas problematika umat
4. Menyelenggarakan pelayanan,
pelatihan dan konsultasi Da’wah Islam yang berkualitas.
5. Melakukan pengkajian, pengembangan dan
menghadirkan standard-standard Da’wah Islam
6. Memasyarakatkan dan
mendorong peningkatan Da’wah Islam dalam rangka menuju kebangkitan
Islam
Kesimpulan
dan Saran .
Kehadiran majelis dakwah / taklim, Sangat penting untuk turut serta dalam mengaktualisasikan dan
meningkatkan peran Da’wah Islam .
Keberadaannya memerlukan dukungan segenap pihak, khususnya umat Islam
yang memiliki kepedulian terhadap da’wah islamiah.
Dalam kenyataan sekarang ini sangat sulit mendapatkan Relawan dakwah
karena sebagian sahabat- sahabat kita begitu bergairah dalam berperan dalam
kancah politik , LSM , dan lebih senang menjadi menghabiskan waktunya dalam
kesibukan kesibukan untuk memperolah
penghasilan dalam bentuk materi. Maka lewat
ini saya mengetuk hati sahabat sahabat untuk bangkit memasuki medan dakwah dan jangan takut
Allahlah yang menjamin rejeki kita.
Siapa yang akan mempertahankan perjuangan
para ulama jika bukan anda .Mari bergandengan tangan membangun dakwah
yang terencana, terorganisir dan professional dan lurus dijalan Allah. Sahabat sahabatku yakinkan diri anda bahwa
menolong Agama Allah kita pasti ditolong oleh Allah. Luruskan , tuluskan ,
Ihklas karena Allah .Saya berharap
sahabat sahabat bersatu dalam tekad mengembangkan Dakwah .
Jadikan hidup anda dalam keindahan dakwah , berdakwah dengan indah , dan
jadikan dakwah menjadi ladang akherat
anda.
Semoga Allah Subhanahu
wa ta’ala senantiasa memberi pertolongan, rahmat, ridlo dan kesuksesan
kepada kita semua. Amin.
Pengajian ke 5
RETORIKA DAKWAH
PENGERTIAN
Retorika berasal dari bahasa Ingeris
rethoric yang artinya ‘ilmu bicara’. Dalam perkembangannya, retorika disebut
sebagai seni berbicara di hadapan umum atau ucapan untuk menciptakan kesan yang
diinginkan. Adapun dakwah berasal dari bahasa arab yang artinya’mengajak atau
menyeru’. Banyak
sekali pengertian dakwah yang dikemukakan oleh para ahli dakwah, tapi pada
prinsipnya dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah aktivitas mengubah situasi dan
kondisi yang tidak sesuai dengan Islam menjadi situasi dan kondisi yang sesuai
dengan kehidupan Islam. Dengan demikian yang diinginkan oleh dakwah adalah
terjadinya perubahan ke arah kehidupan yang lebih Islami.
Dari
definisi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa retorika dakwah adalah
ketrampilan menyampaikan ajaran Islam secara lisan guna memberikan pemahaman
yang benar kepada kaum mulimin agar mereka dapat dengan mudah menerima seruan
dakwah Islam yang karenanya pemahaman dan prilakunya dapat berubah menjadi
lebih Islami.
RETORIKA
DALAM PRAKTEK
Penyampaian ajaran Islam secara lisan
umumnya dilakukan dengan ceramah, pidato, atau khotbah, meskipun ada juga dalam
bentuk dialog. Ceramah dan khotbah pada prinsipnya sama saja, hanya saja
ceramah dapat dilakukan dalam berbagai modifikasi dan variasi dengan gaya yang
lebih bebas sementara khotbah lebih terkesan ritual dengan rukun-rukun yang
telah ditentukan, seperti khotbah Jumat, khotbah Iedul Fitri, Khotbah Iedul
Adha, dan khotbah nikah.
Untuk bisa ceramah dan khotbah dengan baik, minimal ada tiga bagian yang harus selalu diperhatikan.
Untuk bisa ceramah dan khotbah dengan baik, minimal ada tiga bagian yang harus selalu diperhatikan.
1.
Persiapan
Apapun kegiatan yang hendak kita lakukan, persiapan merupakan sesuatu yang teramat penting diperhatikan. Dalam berceramah atau berkhotbah, persiapan menjadi lebih penting lagi lebih khusus bagi para pemula yang belum berpengalaman. Karenanya, sulit untuk bisa ceramah dengan baik bila tidak dibekali dengan persiapan yang matang, bahkan bagi orang yang sudah berpengalaman sekalipun.
Apapun kegiatan yang hendak kita lakukan, persiapan merupakan sesuatu yang teramat penting diperhatikan. Dalam berceramah atau berkhotbah, persiapan menjadi lebih penting lagi lebih khusus bagi para pemula yang belum berpengalaman. Karenanya, sulit untuk bisa ceramah dengan baik bila tidak dibekali dengan persiapan yang matang, bahkan bagi orang yang sudah berpengalaman sekalipun.
Adapun langkah-langkah persiapan yang harus
diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Mental
Persiapan mental meliputi :
Persiapan mental meliputi :
Pertama, harus disadari bahwa apa yang akan kita sampaikan merupakan tanggung
jawab yang mulia, yakni melanjutkan tugas para nabi dalam berdakwah, penting
dan memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, karena masyarakat membutuhkan
bimbingan kehidupan yang baik yang didasari pada ajaran Islam. Kedua,
yakin bahwa apa yang akan disampaikan merupakan sesuatu yang benar. Ketiga, yakin bahwa kita
adalah orang yang paling pantas untuk menyampaikan masalah yang benar itu.
Keempat, menyadari bahwa kita memiliki kemampuan
untuk melakukan tugas ini dan meyakinkan kepada diri sendiri akan kemampuan
itu. Kelima,
Tidak peduli kritikan bahkan cemohan orang-orang yang suka mengkritik.
39. dan bahwasanya seorang
manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,
40. dan bahwasanya usaha itu
kelak akan diperlihat (kepadanya).
41. kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan
Balasan yang paling sempurna, (an Najm :39-41)
b. Memahami Latar Belakang Jamaah
c. Menentukan Masalah
d. Mengumpulkan Bahan
e. Menyusun Sistimatika
Bila tema sudah ditentukan dan bahan-bahan sudah dikumpulkan, maka untuk memudahkan pembahasan perlu disusun sistimatika uraian materi pembahasan dengan alur misalnya:
c. Menentukan Masalah
d. Mengumpulkan Bahan
e. Menyusun Sistimatika
Bila tema sudah ditentukan dan bahan-bahan sudah dikumpulkan, maka untuk memudahkan pembahasan perlu disusun sistimatika uraian materi pembahasan dengan alur misalnya:
Pertama, Menjelaskan sebuah masalah yang sedang terjadi di masyarakat,
Kedua, Bagaimana hukum masalah itu dalam pandangan Islam.
Ketiga,
Bagaimana Islam memberikan solusi tentang masalah tersebut.
Keempat, Kesimpulan yang berisi apa tindakan
riil yang harus kita lakukan berkaitan dengan masalah tersebut.
f. Fisik.
g.
Analisis Pendengar
2. Pelaksanaan
Setelah semua persiapan dilakukan dengan baik, selanjutnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat ceramah/khotbah sedang berlangsung ;
Setelah semua persiapan dilakukan dengan baik, selanjutnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat ceramah/khotbah sedang berlangsung ;
a.Tampil dengan Penuh Percaya Diri
Meskipun
dalam dakwah kita menuntut jamaah untuk menggunakan prinsip “perhatikan apa
yang dibicarakan, jangan perhatikan siapa yang berbicara”, namun penampilan
yang mengesankan tetap diperlukan.
Misalnya menggunakan pakaian yang pantas, wajah yang
ceria, pandangan mata yang ramah dan tutur kata yang baik.
Daya tarik dari sisi ini
merupakan sesuatu yang sangat penting, sebab bagaimana mungkin ceramah kita
akan didengar jamaah bila mereka sudah tidak tertarik dengan penampilankita.
b. Menguasai Forum
Sebelum ceramah dimulai, seorang penceramah terlebih
dahulu harus menguasai dirinya sendiri agar tidak gugup atau tidak grogi. Jika
ia telah menguasai dirinya sendiri, insya Allah ia akan mudah menguasai forum.
c. Jangan
menyimpang
Selama ceramah berlangsung, penceramah harus tetap berpijak pada tema yang sudah disiapkan, jangan sampai melebar terlalu jauh dengan membahas hal-hal yang tidak direncakan untuk dibahas
Selama ceramah berlangsung, penceramah harus tetap berpijak pada tema yang sudah disiapkan, jangan sampai melebar terlalu jauh dengan membahas hal-hal yang tidak direncakan untuk dibahas
d. Gaya yang
Orisinal
Penceramah sebaiknya
menggunakan gayanya sendiri. Jangan meniru gaya orang lain. Hal ini akan
mempermudah ceramahnya, sekaligus dapat menjaga wibawanya.
e. Bersikap
Sederajat
Terutama
kepada jamaah yang dewasa dan intelektual, sebaiknya bersikap sederajat, jangan
terlalu menggurui. Karena itu, dalam menyampaikan pesan, gunakanlah istilah
“kita” bukan “Anda”, apalagi “kalian”.
f. Mengatur
Intonasi
Ceramah yang menarik adalah ceramah yang nadanya naik
turun. Tidak datar terus atau tidak tinggi terus-menerus, apalagi bila dalam
ceramah berkisah tentang dua orang yang berdialog, tentu harus dapat dibedakan
suara antara tokoh yang satu dengan yang lain.
g. Mengatur
Tempo
memberikan ceramah, seorang penceramah hendaknya
mengatur tempo pembicaraan sehingga antara kalimat yang satu dan kalimat
berkutnya diberikan jarak.
h. Memberi
Tekanan
Dalam ceramah seringkali ada kalimat-kalimat yang amat
penting untuk dipertegas kepada pendengar. Kalimat itu harus diberi penekanan
dengan cara mengulang-ulang, karena dengan begitu jamaah mendapat kejelasan
yang memadai
i. Memelihara Kontak dengan Jamaah.
Ceramah yang sudah berlangsung lebih dari 30 menit, biasanya melelahkan jamaah. Oleh karena itu, kontak dengan jamaah jangan sampai terputus, misalnya dengan bertanya, memberikan humor yang segar dan relevan (kecuali dalam khutbah jumat tidak ada humor).
Ceramah yang sudah berlangsung lebih dari 30 menit, biasanya melelahkan jamaah. Oleh karena itu, kontak dengan jamaah jangan sampai terputus, misalnya dengan bertanya, memberikan humor yang segar dan relevan (kecuali dalam khutbah jumat tidak ada humor).
j. Pengembangan
Bahasan
Untuk menambah daya tarik dalam pembahasan, diperlukan
pengembangan pembahasan, antara lain sebagai berikut.
Pertama,
penjelasan, yakni keterangan tambahan yang sederhana dan tidak terlalu rinci.
Kedua, memberikan contoh yang relevan dengan pembahasan sehingga masalah
yang dibahas akan menjadi tambah jelas dan konkret,
Ketiga, memberikan analogi, yakni perbandingan antara dua hal, baik untuk menunjukkan persamaan maupun perbedaan,
Ketiga, memberikan analogi, yakni perbandingan antara dua hal, baik untuk menunjukkan persamaan maupun perbedaan,
k. Memberi Kesimpulan
Bila diperlukan, penceramah dapat memberikan kesimpulan dari uraiannya,
lalu lanjutkan dengan kalimat penutup. Kesimpulan bisa dengan mengungkapkan
beberapa masalah yang sudah dibahas, bisa juga dengan menyampaikan pesan-pesan
inti dari isi ceramah yang kita maksudkan, sesudah itu akhiri ceramah dengan
menyampaikan permohonan maaf dan memberi salam. Hal ini berarti jangan sampai
ceramah diperpanjang lagi padahal sudah saatnya untuk diakhiri.
3. Langkah-langkah Sesudah Ceramah
Meskipun ceramah sudah berlangsung dengan baik menurut sang penceramah, bukan berarti tugasnya sudah selesai, ada beberapa hal yang harus dilakukan.
Pertama,
turun dari podium/mimbar dan berjalan dengan tenang menuju tempat duduk
semula.
Kedua, kalau perlu
cari informasi tentang respons jamaah terhadap kemampuan dan isi ceramah, namun
hal ini harus dilakukan Sehati-hati mungkin agar tidak terkesan kita ingin
mencari pujian, padahal sebenarnya kita perlu masukan dan evaluasi.
Ketiga,
mengevaluasi sendiri ceramah yang sudah disampaikan, misalnya dengan
mendengarkan kembali rekaman ceramahnya.
Demikianlah secara umum bagaimana berceramah yang baik. Bagi yang ingin pandai berceramah tentu saja harus banyak berlatih, baik sendiri atau bersama-sama.
Demikianlah secara umum bagaimana berceramah yang baik. Bagi yang ingin pandai berceramah tentu saja harus banyak berlatih, baik sendiri atau bersama-sama.
Renungan
Sebelum Buku ini saya ahiri ijinkan saya mengajak pembaca
merenungi nasehat yang saya ambil dari sebuah buku berbahasa Melayu
( Malaisa ) , Habib Muhammad
Bin Abdullah bin Syech Bin Abdullah Bin Syeikh Abdullah Alydrus bib Abu Bakar
As-Sakran : ”Idhahul Asrari
Ulumil Murobbin “
Rahasia Ilmu Kaum Moqorobin “
Yang penuh dengan petuah bagi kita Relawan Dakwah NU semoga membawa
manfaat :
Khusus Untuk
Para Dai – Untuk Para Dakwah / Murid
Orang orang yang telah meletakkan
kedudukkan dirinya sebagai Dai (pendakwah) dan
Salik/Murid untuk memberikan petunjuk kepada hamba-hamba Allah. Mulailah
dari diri kamu sendiri, benarkan diri
kamu.
Hati hati,
jangan sampai perbuatan kamu bertentangan dengan ucapan kamu. Ingatlah sikap
itu sangat buruk dan tercela. Jika kamu berbuat demikian maka pengikut kamu
akan terdiri dari orang orang bodoh yang
tidak tahu pertimbangkan akalnya (tidak tahu mengunakan akal) dan
tak dapat dipercaya.
Perhatikan indahnya syair ini:
“Wahai orang
yang mengajar orang lain, mengapa pelajaran itu tidak kau sampaikan kepada diri
sendiri? Mulalah
dari diri kamu, halanglah supaya ia tidak menyimpang. Jika berhasil, maka kamu telah
bersikap bijaksana. Kamu tuliskan (menasihati) resepi untuk si sakit supaya
sembuh, padahal kamu sendiri yang sakit.
Kami lihat kamu
selalu memperbaiki akal kami dengan petunjuk kamu.
Namun kamu sendiri jauh dari petunjuk itu. Jangan kamu larang seseorang untuk
berperangai tertentu, sedangkan kamu
sendiri melakukannya. Jika kamu lakukan ini, maka sungguh besar kesalahan kamu. (Jika kamu ikuti nasihat
kami) akan didengar dan diikuti, ucapan kamu. Dan akan bermanfaatlah ajaran
kamu”
Jangan sampai semangat kamu mencari ilmu hanya untuk meindahkan gaya bahasa
dan susunan kalimat bukan untuk beramal
dan berakhlak.
Sayidina Ali kwh berkata:
“Ilmu orang
munafik terletak pada lidahnya sedangkan ilmu orang mukmin terletak pada
amalnya”
“Betapa banyak
Dai (pendakwah) dan Salik/Murid menyeru ke jalan Allah padahal lari meninggalkanNya. Betapa banyak orang
mendekatkan diri kepada Allah Taala dengan sesuatu yang Dia (Allah)benci. Dan
betapa banyak pembaca ayat ayat Allah tapi tidak mau mengamalkannya” Jangan ada perasaan (maksud
tujuan) untuk menjadi Ulama / Wali Allah mereka disisi Allah lebih berharga daripada
darah syuhada, sebelum ilmu kamu merasuk batin kamu,berpeganglah dengan
bashirah kamu dan mengikuti dorongan kamu untuk bermohon, merendahkan diri,
takut kepada Allah dan berusaha mengikuti akhlak para salaf, radhiyallahuanhum.
Hati hati kerana manusia
dewasa ini suka menulis / membaca buku, bermain kata-kata dihadapan
kawan-kawannya dan banyak membicarakan dan mengumpul biografi (manaqib) kaum
sholihin. Mereka
senang dan bersemangat kerana berbicara itu mudah tapi untuk mengamalkannya
sulit.
Jika kamu ingin mendidik / menasihat seseorang, berperangailah dengan lemah
lembut, nasihatilah mereka. Jangan Hendak tunjukan yang kamu pandai dan mereka bodoh untuk
memahami apa yang kamu nasihatkan.
Sesuaikanlah nasihat yang kamu sampaikan dengan tingkatan akal dan pemahaman
mereka.
Ikutilah orang yang cerdas akal fikiran yang memperhatikan hikmah Allah swt
yang terdapat
pada makhluk-makhlukNya, mengikuti sunnahnya dengan lemah lembut, ramah
tamah dan berusaha menutup kesalahan-kesalahan mereka.
Sampai disini cuplikan ini
diharapkan membawa pengaruh yang positif bagi kita amiin
Doa
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
terlupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada
kami beban yang berat sebagaimana yang Engkau bebankan kepada orang-orang
sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup untuk kami memikulnya. Maaflah kami; ampunilah kami; dan
rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka bantulah kami terhadap kaum yang
kafir. (Al-Baqarah 2: 286)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri
kami, dan jika Engkau tidak mengampuni
kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk dari kalangan
orang-orang yang rugi. (Al-A’raf 7: 23) amiin
Khatimah / Penutup
Al hamdulilah Dengan
terselesainya buku ini
Buku ini disusun sebagai naskah /
bahan ceramah ,diskusi,
dan
Halaqoh. Kebodohan , kelemahan dan
kekurangan adalah
milik penyusun /
penulis tetapi Allahlah Yang Maha perkasa dan
Maha mengetahui
.
Sangat saya rasakan dan pencarian bahan
mengalami kesulitan demikan juga penulisan huruf Arab, Dengan Harapan semoga naskah yang sederhana ini berguna sebagi bahan , ceramah , halaqoh dan diskusi yang
hidup dan aktif .
Saya memohon kepada Alloh Azza
wa Jalla agar memberikan taufiq-Nya kepada kita semua agar berdakwah dengan
cara yang baik, dan agar Alloh meluruskan hati dan amal-amal kita serta
menganugerahkan kepada kita pemahaman di dalam agama dan komitmen di atasnya.
Semoga Alloh menjadikan kita termasuk orang yang mendapatkan petunjuk lagi
menunjuki dan orang yang shalih lagi membenahi, sesungguhnya Ia adalah Maha
Mulia lagi Maha Tinggi, yang Maha Berkuasa lagi Maha Mulia.
وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله
نبينا محمد، وعلى آله وأصحابه، وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين.
Semoga shalawat,
salam dan keberkahan senantiasa tercurahkan kepada hamba dan Rasul-Nya,
Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang baik
hingga hari kiamat.
AMIIN
Referensi :
1.Al-Qur'an
dan Hadits Riyadhus Shalihin
Menggapai
Syafaat Rasul saw. tomboati.org Andy Wahyudi
2. Ibnu Hajar
al 'Asqolani ;Bullugul Maram: Penerbit :
Darul 'Aqidah, Mesir, cet. .1,1 423H /2003 M
Darul Kutub a1-'Ilmilyah, 1417 H
/1997 M judul Edisi Indonesia: TERJEMAH
BULUGHUL MAROM 3.Dhofier. Zamakhsyari. Tradisi
Pesantren (Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai). Jakarta
: LP3ES, 1982.
4. Penulis:Al-Ustadz Muhammad Nur Ihsan, MA (Mahasiswa
S-3 Universitas Islam Madinah) Bagaimana Cara Ber-Amar Ma’ruf & Nahi Mungkar? Sumber :http://muslim.or.id 5. MUHAMMAD SUYOKO ,
RETORIKA DAKWAH handnote
6. Dato’ Hj.
Tuan Ibrahim bin Tuan Man Pensyarah Kanan ITM Cawangan Pahang, KITAB Syarah Al-Hikam I - Imam Athoillah Al-Sakandaria
7.
Syech Abu Laits Samarqandi:
Tanbighul ghafilin edisi
Bahasa Indonesia penterjemah Imam Taqiyudin 8.Imam
Habib Abdullah Alwi Haddad yang bejudul : “Risalutul-Murid”
Petunjuk .Jalan Thariqat edisi bahasa Melayu
9. Habib Muhammad Bin Abdullah bin Syech Bin Abdullah
Bin Syeikh Abdullah Alydrus bib Abu Bakar As-Sakran : ”Idhahul Asrari Ulumil
Murobbin “ Rahasia Ilmu Kaum Moqorobin “
10.Departemen
Ilmiah Darul Wathon,
Dunia
Ladang Bagi Akhirat الدني مزرعة الآخرة , Publication
: 1428, Sya’ban 24/ 2007, September 7,
11.
Al-Qarni, Aidh La Tahzan, jangan bersedih / 'Aidh al-Qarni; penerjemah, Samson
Rahman; penyunting, Syamsuddin TU dan Anis Maftukhin. -Jakarta: Qisthi Press,
2004.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar